Yusril: Fungsikan Lagi MPR sebagai Lembaga Tinggi

Yusril : Fungsikan Lagi MPR sebagai Lembaga TinggiPakar Ketatanegaraan Yusril Ihza Mahendra menyarankan, sebaiknya Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) difungsikan kembali sebagai lembaga tertinggi negara. Paling tidak untuk mengatasi suatu keadaan kalau terjadi apa yang disebut krisis konstitusi.

Yusril Ihza Mahendra yang juga Ketua Majelis Syuro PBB menyampaikan itu usai bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Kantor Presiden, Selasa (24/12/2013). Dalam pertemuan itu, SBY berharap perkembangan politik pada 2014, berjalan damai dan demokratis.

“Beliau (SBY) berharap perkembangan politik pada 2014, berjalan secara damai, adil, demokratis, membawa keselamatan dan kebaikan bagi bangsa kita. Bebas dari segala intrik dan ketegangan,” kata Yusril

SBY juga bicara masalah ketatanegaraan dan bertanya banyak hal kepada Yusril. Selama ini, Yusril memang dikenal sebagai pakar hukum tata negara.

“Dengan Presiden juga bicarakan tentang masalah ketatanegaraan. Ada beberapa hal yang beliau tanyakan mengenai fungsi dari MPR apakah ke depan ini sebaiknya difungsikan seperti dahulu lagi walaupun tidak persis seperti UUD 45 sebelum amandemen,” ungkapnya.

Yusril pun memberikan pandangannya, bahwa seharusnya fungsi MPR harus lah dikembalikan sebagai lembaga tinggi negara. Menurutnya, jika terjadi krisis konstitusi pada sebuah negara, maka akan sulit untuk mengatasinya.

“Krisis konstitusi adalah krisis yang terjadi pada sebuah negara tapi tidak ada jalan keluar konstitusional untuk mengatasinya,” tegasnya.

Bertemu Prabowo Subianto          

Beberapa jam sebelumnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga bertemu Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto.

Kepada Prabowo, Presiden SBY menyatakan ingin “turun panggung” dengan baik dan melakukan serah terima kekuasaan dengan penuh kerukunan.

Saat bertemu dengannya selama sekitar 45 menit, kata Prabowo, Presiden Yudhoyono juga menyampaikan keinginannya untuk mewujudkan suasana yang demokratis dan adil. (bh/berbagai sumber)