YLKI: Banyak Buah-Buahan Diberi Zat Pewarna

 

YLKI: Banyak Buah-Buahan Diberi Zat Pewarna

Selain makanan dan minuman (mamin) berformalin, kini juga yang pantas diwaspadai adalah buah-buahan yang mengandung zat pewarna. Ini dilakukan  oleh para produsen curang.

Berdasarkan laporan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), buah-buahan kerap diberi zat pewarna dan pemanis buatan yang tak sesuai lazimnya. Hampir sebagian pedagang buah di sejumlah pasar tradisional Surabaya sekarang menggunakan zat pewarna.

“Saya mendapatkan laporan dari sejumlah konsumen buah-buahan di pasar tradisional. Saya belum mendapatkan data pasti, tapi mereka mengaku membeli semangka yang dibubuhi zat pewarna,” ungka Dikatakan Kepala YLKI Said Utomo dalam acara Perspective Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (11/7/2014).

Setelah ditelisik, sambung Said, modus kecurangan ini cenderung masih dikatakan lama tapi menggunakan medium baru, yakni buah-buahan. “Kebanyakan dari mereka mengatakan, setelah mengonsumsi semangka ternyata lidah mereka juga ikut bewarna merah. Setelah mereka cek ternyata ada zat pewarnanya.

Said merasa khawatir dengan fenomena yang terjadi di sejumlah pasar tradisional. Karena bukan saja buah semangka yang diberi zat pewarna atau perasa rasa, tapi juga buah jenis lainnya seperti jeruk, apel, dan banyak lainnya.

“Kami hanya sebatas mengedukasi warga, agar jangan beli lagi buah-buahan atau mamin di tempat tersebut. Kapasitas kami hanya engedukasi,” terangnya.

Meskipun demikian, Said tetap melaporkan penemuan kasus tersebut pada Dinas Perdagangan dan Perindustrian Surabaya. “Belum ada tanggapan dari Disperindag,” paparnya.

Menurut Said, kecurangan produsen mamin tidak hanya sampai disitu. Seperti diceritakannya saat membeli ikan di Pasar Kapas Krampung Surabaya. Pria berkumis itu kaget ketika melihat beberapa pedagang ikan yang berupaya mengusir lalat yang mengerubungi ikan dagangannya dengan semprot pengusir nyamuk.

“Saya kaget, berarti ikan asin yang selama ini dikonsumsi warga Surabaya terindikasi sudah disemprot obat pengusir hama,” kesal Said sembari geleng-geleng tak percaya.

Kepala Bidang Sertifikasi Balai Pengawasan Obat dan Makanan Retno Katulistiwa mengakui, semua elemen masyarakat harus menindak kecurangan tersebut.  “Kami hanya mengawasi mamin yang tergolong dalam kemasan dan yang tahan lebih dari satu minggu. Artinya kalau buah-buahan masyarakat dapat lebih teliti sebelum membeli,” ujarnya.

Dia juga membeberkan jika masyarakat merasa ragu dengan kandungan mamin yang dibelinya di pasar. Masyarakat bisa melakukan sampling secara manual di rumah. Yakni dengan mendiamkan mamin itu di rumah dengan suhu kamar, selama dua hari. “Kalau masih belum busuk, ya perlu dipertanyakan itu,” pungkasnya. (wh)