Wow, Produk Kerajinan Penghuni Liponsos Surabaya Laris Manis

Wow, Produk Kerajinan Penghuni Liponsos Surabaya Laris Manis

Penghuni Liponsos Surabaya membuat keset dan kerajinan, Rabu (26/10/2016).

Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) yang ditampung di Liponsos, Jalan Keputih Tegal Surabaya diberikan pelatihan untuk membuat berbagai barang kerajinan.

Saat enciety.co melihat barang-barang kerajinan yang dihasilkan dari tangan-tangan yang “dibuang” oleh keluarganya tersebut, ternyata tidak kalah dengan buatan orang biasa. Mulai dari keset, handuk, taplak meja, mukena, dan bros terlihat bagus dan layak jual.

Supardi, instruktur pelatihan di Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Liponsos Keputih, mengatakan pihaknya memberikan pelatihan kepada para penghuni tersebut sejak 4 tahun lalu, tepatnya tahun 2012.

“Pelatihan di Liponsos biasanya diikuti 25 sampai 35 penghuni sini. Namun tidak semua bisa ikut. Hanya yang sudah terlihat sembuh dan mendapat klasifikasi dari pembimbingnya saja bisa ikut membuat kerajinan itu,” terang Supardi yang mengajar bersama istrinya, Wiwit Manfaati.

Yang membanggakan, dari hasil kerajinan penghuni Liponsos Surabaya ini telah menghasilkan uang tabungan mencapai Rp 24,4 juta. Uang tersebut merupakan penjualan dari berbagai macam barang yang diproduksi mereka.

Penjualan barang-barang kerajinan atau handmade tersebut dijual kepada pengunjung, dipamerkan di berbagai sentra penjualan di Kota Pahlawan, seperti di Sentra UKM MERR dan Sentra UKM Balai Kota Surabaya.

Nantinya, dari hasil tabungan ini, para ibu-ibu yang kebanyakan melakukan pelatihan tersebut di setiap 2 atau 3 bulan sekali diadakan rekreasi.

“Uang tersebut disimpan dan dikembalikan kepada mereka. Dari hasil penjualan, biasanya mereka minta rekreasi atau makan bersama dengan orang-orang sini,” urainya.

Supardi sendiri mengaku butuh kesabaran khusus untuk mengajarkan kepada para “anak didiknya” agar bisa menghasilkan barang yang berkualitas. Mulai dari sering ngomel sendiri dan kadang tidak fokus.

Namun, menurut dia, itu semua hambatan yang harus dijalaninya dan mereka harus bisa sabar.

“Walau kelihatannya sulit, namun ternyata mereka semua bisa menghasilkan produk yang bagus. Dan demi keamanan bersama, setiap selesai pelatihan, peralatan ketrampilan seperti gunting dan jarum dikembalikan ke kami sebelum mereka kembali ke barak untuk beristirahat,” tandasnya.