Wow, Go-Jek Telah Diunduh 50 Juta Pengguna

Wow, Go-Jek Telah Diunduh 50 Juta Pengguna

Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya, dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (17/11/2017). foto: arya wiraraja/enciety.co

Sejak didirikan tahun 2010, Go-jek telah di-download oleh 50 juta pengguna dan telah memiliki 500 ribu mitra pengemudi. Sekitar 70 persen mitra pengemudi Go-jek merupakan kepala keluarga. Lalu, 80 persen dari mitra pengemudi Go-Jek memiliki latar belakang pendidikan SMP-SMA sederajat

Hal itu diungkapkan Dimas Utomo, Perwakilan Managemnet PT Go-Jek Indonesia, dalam sambungan telepon dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (17/11/2017).

Dimas membeberkan, ada tiga pilar dasar yang menjadi pondasi menjalankan perusahaan, yakni speed, innovation, and social impact. “Dengan tiga pilar tersebut, Go-Jek terus berkomitmen menyediakan jasa yang cepat, aman, dan murah,” katanya.

Jika dikaitkan secara rinci dengan angka 500 ribu mitra pengemudi yang telah bergabung bersama Go-Jek,  imbuh dia, ada sekitar 2 juta orang Indonesia yang mendapatkan benefit.

“Dengan kata lain, kami sudah mewujudkan ketiga pilar, terutama social impact sebagai jati diri dari perusahaan,” tegas Dimas.

Ia menambahkan, aplikasi Go-Pay yang menawarkan layanan transaksi keuangan secara non tunai mulai dikembangkan oleh Go-Jek. Saat ini, pihaknya telah mengantongi izin dari Bank Indonesia sebagai salah satu lembaga negara terkait operasional perangkat aplikasi tersebut.

“Sampai saat ini, pengguna aplikasi Go-Pay telah terpantau sekitar 40 persen. Dengan aplikasi tersebut, para mitra usaha atau pengguna jasa dapat memantau sejumlah transaksi melalui Go-Pay secara real time, transparan, dan aman,” tutur Dimas.

Dengan Go-Pay ini, kata Dimas, seluruh mitra usaha atau pengguna jasa Go-Jek dapat menggunakan jasa transaksi non tunai. “Dengan kemudahan ini, kami sangat berharap agar seluruh mitra atau pengguna jasa Go-Jek bisa mendapatkan kemudahan-kemudahan bertransaksi non tunai,” jelas dia.

Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya yang memandu acara menjelaskan, perusahaan rintisan berbasis digital (startup dengan pondasi mengenal kebutuhan dari masyarakat seperti Go-Jek, kini makin berkembang. Awal digagas menyediakan layanan jasa transportasi. Namun saat ini mereka berinovasi dengan mengembangkan jasa lain.

“Ada jasa antarbarang dengan Go-Send dan Go-Box. Lalu ada jasa antar makanan dengan Go-Food, dan bahkan saat ini telah menyediakan jasa antar tukang pijit,” katanya.

.Menurut Kresnayana, sebagai salah satu startup penyedia jasa berbasis aplikasi, perusahaan seperti Go-Jek tersebut telah berupaya untuk mengembangkan usahanya lewat merancang sebuah aplikasi yang terkait dengan bidang pendidikan dan kesehatan. “Bahkan, mereka juga merambah sektor financial,” cetusnya.

Hal tersebut,imbuh Kresnayana, dikarenakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) beberapa waktu lalu telah genjar mengkampanyekan financial literacy. Di mana dalam konsep tersebut, transaksi keuangan tidak lagi hanya menggunakan uang cash dan mulai beralih dengan menggunakan sistem transaksi keuangan secara digital.

Go-Jek sebagai penyedia jasa layanan berbasis aplikasi, sambung Kresnayana, merupakan salah satu startup yang perkembangannya sangat pesat. Jika dilihat awal bangkit pada tahun 2010, Go-Jek mulai menyediakan jasa untuk 1 kota. Tahun 2015, Go-Jek mulai berkembang di 15 kota. Di tahun 2017, Go-jek telah mampu berkembang dengan menyediakan jasa layanan untuk 50 kota di seluruh Indonesia.

“Dengan terus berkembangnya startup seperti Go-Jek tersebut, menjadi sebuah cerminan jika saat ini startup sangat diwajibkan untuk bisa menjawab kebutuhan dan tantangan di era perkembangan ekonomi digital,” tegasnya.(wh)