Wow, Angka Peredaran Pakaian Bekas Impor Tembus Rp 11 Triliun

antarafoto-PakaianBekas-Merapii091110

Peredaran pakaian bekas impor ilegal yang marak di Indonesia telah memberikan kerugian hingga triliunan Rupiah pada pengusaha khususnya Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) berbasis tekstil dan garmen. Karenanya, pengusaha pun menolak tegas peredaran pakaian impor ilegal tersebut. “Ini menyangkut harga diri. Masa kita pakai barang dan pakaian bekas,” tutur Sekretaris Jenderal Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ernovian di Jakarta, Senin (16/2/2015)
Lebih lanjut Ernovian menjelaskan, bila pakaian bekas impor tersebut masih banyak terjual di pasar Indonesia, maka akan berdampak signifikan bagi produksi pakaian dalam negeri, terutama yang berasal dari pihak UMKM. Ernovian memaparkan, kondisi tersebut membuat industri tekstil dan garmen dalam negeri berpotensi kehilangan pangsa pasarnya. Padahal, bila dilihat produk lokal sangat mampu dalam menggantikan pasar tersebut. “Seharusnya pasar-pasar itu diisi oleh penjual-penjual lokal dan domestik, bukan malah pakaian bekas impor. Tapi kenapa masih seperti itu, karena melihat pasar dari Indonesia yang mencapai 250 juta penduduk Indonesia itu,” jelasnya.
Menurut dia, pakaian impor ilegal terdiri dari dua jenis, di antaranya adalah pakaian impor ilegal yang baru, sedangkan yang kedua adalah pakaian bekas impor ilegal. “Konsumsi pakaian Indonesia di 2014 mencapai Rp 154,3 triliun,” imbuh dia.
Dari angka tersebut, impor pakaian resmi melalui izin impor Kementerian Perdagangan nilainya mencapai Rp 48,02 triliun. Sedangkan pakaian impor, yang dipasok industri dalam negeri sebesar Rp93,35 triliun. Sedangkan selisih Rp10,9 triliun, diduga adalah pakaian impor ilegal yang belum termasuk pakaian impor yang bekas. “Untuk yang bekas itu angkanya sekitar Rp8-Rp11 triliun. Itu bisa diisi produk domestik seharusnya,” tandasnya. (oke)