Wawan Soto

Wawan Soto

Wawan Sugianto dan Agus Wahyudi, foto: arya wiraraja/enciety.co

*) Agus Wahyudi                      …

Agak surprise juga bertemu Wawan Sugianto. Saat pelatihan Pahlawan Ekonomi Surabaya di Kaza City, awal Mei 2016 lalu. Kebetulan, Wawan didapuk menjadi narasumbernya. Ia diminta memberi tips dan trik mengelola usaha kuliner. Ratusan pelaku usaha kecil menengah (UKM) antusias mengikuti acara tersebut.

Hampir lima belas tahun tak bertemu dengannya. Tidak banyak berubah dari sosok pria kelahiran Bojonegoro, 44 tahun, ini. Sosoknya tetap bersahaja, murah senyum, dan rendah hati. Hanya, tubuhnya yang terlihat tambah subur dan rambutnya yang lebih tipis dan rapi.

Wawan, begitu ia karib disapa, adalah potret pengusaha yang menikmati ‘surga’ dari bisnis kuliner. Usahanya yang dirintis tahun 1988, kini berbuah manis. Meski tak banyak yang tahu jika dia memulainya dari nol. Dengan modal semangat dan bondo nekat (bonek). Kepiawaian berbisnis Wawan lebih banyak ditempa oleh alam. Belajar sambil bekerja.

Wawan bukan lahir dari keluarga pebisnis. Ayahnya hanya seorang pamong desa. Wawan hanya mengenyam pendidikan sampai kelas empat sekolah dasar. Saat sekolah dia kerap diolok-olok temannya. Bahkan ia sempat menghajar temannya gara-gara diajek bodoh. Lantaran tak mau sekolah. Ia merantau ke Surabaya di usia belasan tahun. Di Kota Pahlawan Wawan bekerja serabutan. Mulai dari menjaga toko sampai tukang cuci piring di salah satu hotel di Surabaya.

Wawan memulai usaha dari pedagang kaki lima. Ketika ia masih bekerja di hotel sebagai tukang cuci piring, ia tertarik belajar memasak dari seorang chef hotel. Kali pertama membuka warung soto dia mengambil bahan yang sudah jadi dari H. Wachid, pemilik warung Soto Kaliasin yang terkenal saat itu. Tidak langsung ramai. Butuh berbulan-bulan hingga dia bisa merasakan hasil dari menjual soto.

Dia menyapa semua pelanggannya dengan ramah. Berbagai kritik dan masukan konsumen ia terima dengan lapang dada. Terlalu asin, kelewat pedas, kuahnya kurang gurih, dan masih banyak lagi keluhan yang sering diterima dari konsumennya.

Tahun 1988, Wawan membuka gerai kali pertama di Jalan Mayjen Sungkono 20, Surabaya. Soal brand-nya dia tak mau repot dan ribet.  Cukup menyebut Soto Madura Wawan, meski dia sendiri bukan orang Madura.

Sampai sekarang ia masih ingat, memulai buka Soto Wawan pada tanggal delapan, bulan delapan, tahun sembilan belas delapan delapan (8/8/1988). Wawan tidak mengerti dan tidak pernah mau menafsirkan makna angka delapan itu. Keramat atau tidak. Tapi yang jelas, dalam menjalankan bisnisnya, ia yakin akan sunnatullah. Bahwa setiap usaha keras dan pantang menyerah pasti ada hasilnya.


Selanjutnya: Soto Madura Wawan KLIK DISINI