Warga Terdampak eks Lokalisasi Dolly Tuntut Uang Kompensasi

Massa menghadang petugas gabungan saat memasang plakat di eks lokalisasi Dolly. avit hidayat/enciety.co
Massa menghadang petugas gabungan saat memasang plakat di eks lokalisasi Dolly. avit hidayat/enciety.co

Penolakan pemasangan plakat Kawasan Bebas Prostitusi di eks lokalisasi Dolly dilatarbelakangi kekecewaan warga. Pasalnya, mereka yang merasa menjadi warga terdampak Dolly, sampai sekarang belum mendapat uang konpensasi Rp 5 juta dari Pemkot Surabaya.

Koordinator Lapangan (Korlap) FPL Surabaya Apeng mengatakan, pihaknya sampai saat ini menolak penutupan lokalisasi Dolly karena warga mempertanyakan uang kompensasi. “Sebagian dari warga terdampak termasuk kami juga tidak mendapatkan uang kompensasi,” tegasnya, seusai melakukan penghadangan petugas gabungan pemasang plakat, Jumat (25/7/2014).

Apeng mengungkapkan, kebanyakan warga yang mendapatkan uang kompensasi justru dari warga lain di luar dari kawasan eks lokalisasi Dolly dan Jarak. “Semua yang dapat konpensasi itu orang luar, bukan kami,” akunya.

Bersama dengan puluhan massa lainnya, FPL Surabaya menegaskan untuk tetap bekerja seperti biasa. “Setelah Ramadan nanti kami akan buka kembali,” tambahnya.

Apeng menegaskan, pada 2 Agustus mendatang, Dolly dan Jarak akan beroperasi lagi. Untuk melakukan penjagaan adanya razia pihaknya akan melakukan penjagaan di setiap gang masuk Dolly.

“Nanti kami akan menempatkan petugas di setiap gang Dolly. Mereka bertugas menghadang petugas saat terjadi razia,” tuturnya.

Lebih lanjut, mantan mucikari di eks lokalisasi Dolly tersebut akan tetap nekat buka walau pun Pemkot Surabaya melarang. “Kami mau makan apa kalau tidak bekerja sebagai PSK,” ucapnya. (wh)