Warga Pendatang Surabaya Bisa Dikenai Sanksi Pidana

Warga Pendatang Surabaya Bisa Dikenai Sanksi Pidana
Kepala Dinas Kependukan dan Catatan Sipil kKota Surabaya, Suharto Wardoyo

Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispendukcapil) Kota Surabaya mengultimatum warga pendatang bisa dikenai sanksi pidana atau denda apabila selama tiga bulan tinggal di Kota Pahlawan itu tidak memiliki identitas kependudukan berupa Surat Keterangan Tinggal Sementara (SKTS) atau Kartu Identitas Penduduk Musiman (Kipem).

“Ancamannya tipiring (tindak pidana ringan) selama tiga bulan kurungan atau denda maksimal Rp50 juta,” kata Kepala Dinas Kependukan dan Catatan Sipil Kota Surabaya, Suharto Wardoyo di Surabaya, Kamis (23/7/2015).

Namun demikian, lanjut dia, perlakuan berbeda diberikan kepada warga luar daerah yang baru datang pasca-Lebaran. Jika diketahui belum memiliki identitas kependudukan, mereka diminta untuk mengurusnya. “Jika baru datang kita minta urus SKTS,” cetus dia.

Dispendukcapil memeberi batas waktu selama tiga buan bagi pendatang yang mengurus kependudukan. Suharto Wardoyo menambahkan,  pertambahan penduduk Surabaya tiap tahun sekitar 2,5 persen.

“Dari jumlah itu, sebanyak 13 ribu orang yang telah mengurus SKTS, sedangkan 23 ribu orang adalah penduduk musiman,” ujarnya.

Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini sebelumnya mengatakan sasaran operasi yustisi adalah rumah kos di sejumlah kawasan kota. Dalam operasi Yustisi hari ini, pihaknya melibatkan sejumlah Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), mulai Satpol PP, pegawai kelurahan, serta kecamatan.

“Kita gerakkan muspika kecamatan, kelurahan, bagian pemerintahan untuk melakukan yustisi kependudukan,” ujarnya.

Risma mengungkapkan, operasi yustisi sebenarnya telah dilakukan sejak H+1 pasca-Lebaran. Pada saat itu, tempat yang dituju adalah terminal dan stasiun.

“H+1 Lebaran, terminal dan stasiun kita waspadai,” katanya.

Dalam operasi yustisi, para petugas melakukan proses administrasi dengan mendata para pendatang, guna mengetahui tempat kerja mereka di surabaya. “Kita Cekk dulu dia bekerja dimana,” katanya. (ant/wh)