Wali Kota Risma Siapkan Trauma Center untuk Korban Teror Bom

Wali Kota Risma Siapkan Trauma Center untuk Korban Teror Bom

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini melakukan komunikasi dan koordinasi bersama kepala sekolah SD/MI Negeri dan Swasta, SMP/MTs Negeri dan Swatsa, PKBM, Madin dan Pondok Pesantren se-Surabaya di Gedung Convention Hall Arief Rahman Hakim, Rabu (16/5/2018).foto:humas pemkot surabaya

Mengantisipasi agar anak-anak tidak trauma, Pemkot Surabaya menyediakan wadah trauma center bagi korban teror bom maupun yang berada di lingkaran teroris, khususnya anak-anak.

Saat ini, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini telah berkoordinasi bersama dengan jemaat gereja, organisasi perangkat daerah (OPD) terkait dan profesi himpunan psikologi klinis dan sekolah.

“Metode pendampingan satu anak akan didampingi satu psikolog baik ketika di rumah sakit, di rumah maupun di sekolah,” jelasnya, saat melakukan komunikasi dan koordinasi bersama kepala sekolah SD/MI Negeri dan Swasta, SMP/MTs Negeri dan Swatsa, PKBM, Madin dan Pondok Pesantren se-Surabaya di Gedung Convention Hall Arief Rahman Hakim, Rabu (16/5/2018).

Wali Kota Risma juga meminta para guru memperhatikan dan melaporkan anak yang secara tiba-tiba tidak sekolah. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Wali Kota Risma akan membuat software sederhana untuk memasukkan nama anak-anak yang tidak sekolah agar terdata dengan baik.

“Segera saya koordinasikan dengan Pak Ikhsan (Kadinas Pendidikan Kota Surabaya),” imbuhnya.

Terobosan untuk membuat software guna menampung anak-anak yang tidak sekolah direspons positif Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya, Ikhsan. Menurutnya, sesuai arahan wali kota, hal ini akan didalami jika terdapat anak yang dalam kurun waktu 1 hari tidak masuk sekolah. Adapula, program yang mampu mendeteksi suasana hati anak ketika datang ke sekolah.

“Apakah anak tersebut sedih atau senang. Nanti ada alat pendeteksi semacam itu dibantu guru BK dan wali kelas,” ujar Ikhsan.

Dia meminta kepala sekolah untuk berkomunikasi dengan wali kelas agar mampu mendeteksi anak-anak yang mengalami perilaku ‘aneh’ ketika berbicara. Hal itu diyakini mampu menjadi informasi yang baik untuk ditindaklanjuti.

“Para guru tolong konsen dan deteksi ketika mendengar ucapan yang tidak biasa dilontarkan anak-anak,” kata Wali Kota Risma.

Penting bagi Wali Kota Risma untuk menekankan kepada para kepala sekolah dan guru dalam memperhatikan tutur kata, perilaku, serta meningkatkan komunikasi anak-anak yang cenderung mengalami perubahan secara mendadak.

“Ini memang berat, tapi komunikasi harus dibangun antara guru dan anak agar tidak kecolongan lagi,” ungkapnya.

Agar imbauan ini dapat diterapkan, dirinya meminta kepada seluruh guru bimbingan konseling (BK) dan agama untuk lebih aktif berinteraksi utamanya pada jam-jam istirahat terhadap anak-anak. Sebab, ujar Wali Kota Risma, guru agama memiliki peran penting untuk mengembangkan perilaku dan pola pikir anak dalam hal keagamaan.

Selain itu, imbuh wali kota perempuan pertama di Surabaya itu, para guru diminta untuk menjelaskan secara detail kepada anak-anak bahwa Pancasila dan semua agama menyelipkan poin toleransi antarumat manusia, hubungan antarmanusia dan Pencipta.

“Itu harus diajarkan dan ditanamkan agar mereka mengerti,” tandas Wali Kota sarat akan prestasi dunia itu.

Hal serupa juga ditekankan Wali Kota Risma kepada anak-anak yang bersekolah di pondok pesantren. Dia berharap agar anak-anak dipantau baik saat di pondok pesantren maupun di rumah.

“Semua elemen harus bergerak dan bersinergi membangun komunikasi tanpa terkecuali,” pintanya.

Tidak hanya mendeteksi dan memantau perilaku anak, Wali Kota Perempuan pertama di Surabaya ini juga meminta kepada para guru dan kepala sekolah untuk menghimbau anak-anak agar tidak membully temannya yang terkena bom atau masuk dalam lingkaran teroris.

“Para guru diminta untuk mengingatkan kepada siswa lain untuk tidak mengolok-olok karena saya tidak ingin anak-anak trauma sampai kondisinya benar-benar stabil,” pesannya. (wh)

Berikan komentar disini