Wacanakan FLNG untuk Pengelolaan Migas di Laut Dalam

Wacanakan FLNG untuk Pengelolaan Migas di Laut Dalam
Rektor ITS Prof Joni Hermana memberikan sambutan pembukaan Group Discussion (FGD) Maritim dengan tema Teknologi Pengelolaan Sumber Daya Minyak dan Gas di Laut Dalam di Ruang Sidang Rektorat ITS, Senin (16/11/2015).

Belum habis wacana tol laut, konsep kemaritiman terus dicanangkan, terlebih untuk pengelolaan minyak dan gas (migas) bumi di Indonesia. Ketersediaan cadangan 80 persen gas bumi di laut dalam Indonesia, perlu dikaji lagi untuk pengelolaan dengan konsep laut, yakni penggunaan sistem Floating Liquid Natural Gas (FLNG).

Untuk itu, Konsorsium Maritim melalui Institut Teknologi Sepuluh Nopember mengadakan Forum Group Discussion (FGD) Maritim dengan tema Teknologi Pengelolaan Sumber Daya Minyak dan Gas di Laut Dalam di Ruang Sidang Rektorat ITS, Senin (16/11/2015).

FGD ini dimaksudkan untuk menyuarakan inovasi teknologi pengelolaan migas di laut dalam, khususnya Blok Masela, di wilayah Maluku Tenggara Barat.

Menurut ahli hidrodinamika bangunan apung dari ITS, Prof Ir Eko Budi Djatmiko MSc PhD,  berdasarkan hasil uji riset FLNG yang dilakukannya, kondisi laut di Indonesia memiliki ukuran gelombang dan angin laut yang tidak stabil di laut lepas. Riset FLNG ini dilakukan di laut dalam Blok Masela, Indonesia yang memiliki kedalaman laut 600 – 700 meter.

Blok Masela ini dijadikan contoh proses penyaluran penggunaan pipa ke pulau terdekat, yakni Kepulauan Aru sejauh 600 kilometer. Namun, dengan sistem FLNG ini, penyaluran pipa hanya akan sampai pada kapal FLNG, yang mana kapal ini merupakan kapal pengolah migas.

“Kemudian, dari kapal akan didistribusikan ke daratan untuk dipanaskan dan dikirim kepada pembangkit,” ujar Eko memaparkan proses pengelolaan migas menggunakan inovasi FLNG ini.

Namun, permasalahan pun muncul, penyaluran pipa dari laut dalam ke kapal FLNG ini sangat sensitif terhadap gerakan kapal, sehingga aliran dalam pipa dikhawatirkan terhenti. Melalui pengujiannya, Eko menjelaskan sampai saat ini permasalahan itu sudah teratasi.

“Pengujian sudah dilakukan dari riset ITS sejak tahun 2006, kita solusikan perluasan lebar dan panjang kapal, hingga saat ini kapal tidak ada masalah,” jelas mantan dekan Fakultas Teknologi Kelautan (FTK) ITS dalam diskusi ini.

Sementara itu, Wakil Rektor IV ITS, Prof Dr Ketut Buda Artana ST MSc menjelaskan pengelolaan migas di laut dalam Blok Masela. Konsep darat yang digunakan saat ini adalah penyaluran sumber daya migas dari laut dalam menggunakan pipa untuk dialirkan ke pulau terdekat.

Selanjutnya, pengolahan sumber daya, baik pendinginan maupun pemanasan sebelum didistribusikan ke pembangkit, akan dilakukan di pulau tersebut. “Permasalahannya adalah peletakan pipa di dasar laut yang melalui daerah rawan gempa akan mengakibatkan gangguan pada pipa penyalur migas ke daratan,” papar ahli transportasi LNG dan Safety.

Hasil diskusi konsorsium tersebut menjawab permasalahan yang dipaparkan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman (Menkomaritim) RI mengenai permasalahan Blok Masela sejak beberapa bulan lalu.

Tak sabar dengan wacana yang sudah dicanangkan bertahun-tahun, Ketut mengatakan bahwa hasil konsorsium ini nantinya perlu digencarkan dan segera terealisasikan. Bahkan ITS sudah mengadakan kajian resmi dan riset yang bekerjasama dengan PT PAL, Laboratorium Hidrodinamika Indonesia (LHI) BPPT, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS), dan Biro Klasifikasi Indonesia (BKI).

“Upaya ini harus segera terlaksana. Mudah-mudahan hasil kami ini sangat akademis dan objektif,” pungkas Ketut.