Usut KBS, Polrestabes Surabaya Lakukan Uji Hisotoksin

Usut KBS, Polrestabes Surabaya Lakukan Uji Hisotoksin
AKBP Farman menunjukkan beberapa temuan terkait kematian satwa KBS, Sabtu (25/1/2014)

Reserse Kriminal (Reskrim) Polrestabes Surabaya menyelidiki kasus Kasus kematian beberapa satwa di Kebun Binatang Surabaya (KBS). Rencananya, polisi kembali memeriksa sejumlah pengurus KBS.

Kasatreskrim Polrestabes Surabaya AKBP Farman mengatakan, polisi saat mendatangi Tempat Kejadian Perkara (TKP) pertama kali sesaat setelah kematian Michael, singa KBS, kondisinya sudah rusak.

“Kami akan kembali melakukan penyelidikan dengan memanggil pengurus untuk menelusuri kematian hewan singa ini,” ujarnya, Sabtu (25/1/2014).

Menurutnya, ada beberapa temuan awal dari proses kematian singa yang didapat dari hasil penyelidikan Polrestabes Surabaya. Hasil tersebut akan dijadikan sebagai pijakan guna menguak kembali peristiwa tersebut.

Penyelidikan polisi sendiri menurutnya tidak akan mungkin sempurna karena TKP sudah kondisi rusak. Juga Standard Operasional Prosedur (SOP) di KBS yang patut dipertanyakan karena KBS tidak pernah menunjukkan mekanisme atau SOP binatang yang telah mati.

Polrestabes Surabaya merasa sulit menangani karena KBS terlalu ikut campur. “Seharusnya bila diserahkan ke kami, tempat itu harus steril. Mereka tidak melakukan semuanya. Seperti memindahkan barang bukti,” jelasnya.

Apa yang telah disampaikan drh Liang Kaspe kepada penyidik bahwa KBS akan melakukan uji hisotoksin untuk mengetahui kandungan racun dalam tubuh singa.

“Kita telah interogasi awal yang disampaikan oleh drh Liang bahwa akan ada uji laboratories untuk melihat racun. Ternyata hingga hari ini tidak bisa dilakukan. Mereka beralasan karena tidak ada samplenya,” ujarnya.

Ditambahkannya, polisi juga kesulitan karena tidak ada saksi yang melihat langsung kematian Michael. Juga drh Liang bersama drh Rahmat ternyata telah melakukan otopsi terlebih dahulu sewaktu polisi belum berada di KBS.

“Dalam otopsi itu, ternyata mereka sudah menguliti dan memberikan formalin pada singa pukul 12.30. Kita berada di sana pukul 13.00,” sambungnya.

Uji materiil apapun diakui oleh Farman hingga kini pihaknya tidak pernah menerimanya. Polisi hanya diberi foto-foto singa Michael saja oleh pengurus KBS yang telah diotopsi. “Ini hanya temuan yang kami peroleh. Otopsi kita tidak pernah dihubungi oleh KBS,” sesalnya.

Penyidik Polrestabes Surabaya sendiri juga mendapat keterangan yang saling berbeda. Bila dari hasil kajian tim Unair yang disampaikan oleh Direksi Unair bahwa histopatologis dilakukan pada tanggal 9 Januari, bukan tanggal 7 atau 8 Januari.

“Padahal pada 8 Januari saat saya menanyakan kepada drh Liang apakah uji laboratori organ singa sudah dilakukan. Liang menjawab sudah. Ternyata jawabannya berbeda,” kata Farman.

Dijelaskannya, Polrestabes Surabaya mendapat surat jawaban dari Unair disampaikan Direksi KBS bahwa histopatologis ternyata dilakukan tanggal 9 Januari. Dan bukan tanggal 7 atau 8 Januari. “Ini yang menimbulkan kecurigaan lagi,” sambungnya.

Polrestabes Surabaya berencana mengesampingkan hasil pemeriksaan dari tim Universitas Airlangga (Unair) dengan alasan karena tidak melakukan otopsi secara langsung. Hasil uji histopatologis dari Unair adalah kematian singa yang dilakukan jika ada pembendungan pembuluh darah pada leher singa.

Dirinya juga menilai, yang dilakukan KBS dengan menggelar penyelidikan internal serta otopsi sendiri adalah mengabaikan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tetang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

“Itu sudah melampaui dan menyalahi ketentuan perundangan. Bila berdasarkan undang-undang yang memiliki kewenangan melakukan olah TKP dan memeriksanya yakni PPNS, BKSDA dan Kepolisian,” jlentrehnya.

Sebelumnya, “Michael” Singa koleksi KBS berusia 1,5 tahun ditemukan tewas dengan leher tergantung tali seling di kandangnya. Berbagai dugaan penyebab kematian Singa jantan tersebut bermunculan. (wh)