Usung Konsep Wisata Bahari, Hidupkan Kawasan Pesisir Pantai

Usung Konsep Wisata Bahari, Hidupkan Kawasan Pesisir Pantai
Kawasan Pantai Kenjeran yang menyimpan potensi besar untuk dikembangkan. Foto: arya wiraraja/enciety.co

Pemerintah Kota Surabaya bakal mewujudkan proyek prestisius. Namanya Jembatan Kenjeran. Jembatan sepanjang 700 meter tersebut menelan anggaran Rp 209 miliar. Rencana pembangunannya dilaksanakan Februari 2016 mendatang. Dibangunnya Jembatan Kenjeran ini bakal menjadi membawa dampak besar, terutama di sektor pariwisata dan bisnis. Berikut laporan Arya Wiraraja, jurnalis enciety.co.

Minggu (8/11/2015) pagi, kawasan Pantai Kenjeran yang terletak di timur Kota Surabaya, terlihat ramai. Pengunjung yang mayoritas keluarga menghabiskan waktu liburnya menikmati keindahan pemandangan laut yang sangat menawan. Melodi debur ombak yang menghantam batu karang membuat suasana teduh di sepanjang pantai yang menjadi salah satu ikon Kota Pahlawan itu.

Menyusuri kawasan Pantai Kenjeran yang indah tersebut bagaikan melihat tambang emas yang belum terjamah. Analogi tersebut sangatlah pas jika kita melihat langsung kawasan pesisir dengan pemandangan yang menawan, mirip pemandangan di Pantai Kuta Bali.

Pantai Kenjeran diyakini ini sebagai ladang bisnis yang menjanjikan. Hanya saja, perlu sentuhan pembangunan agar lebih baik. Jika sekarang Pemerintah Kota Surabaya memastikan membangun Jembatan Kenjeran sebagai hub lintasdaerah pada Februari 2016 mendatang, masyarakat sangat antusias menyambutnya.

Simak saja penuturan Ilyas (42), pedagang es kelapa muda di Pantai Kenjeran. Dia mengaku sangat gembira dengan rencana pembangunan Jembatan Kenjeran. “Kami ingin kawasan Pantai Kenjeran menjadi lebih indah lagi. Karena memang jika kawasan ini menjadi bagus, maka banyak warga yang akan datang. Ini akan berdampak positif bagi mata pencaharian kami,” ungkapnya.

Hal senada dilontarkan Rukhayah (36), pedagang Ikan Pantai Kenjeran. Dia menyatakan sangat mendukung pembangunan yang digagas Pemerintah Kota Surabaya pada zaman pemerintahan Wali Kota Tri Rismaharini tersebut.

Ia sangat berharap pemerintah dapat segera merampungkan pembangunan Jembatan Kenjeran. Pasalnya, jembatan itu  nantinya akan menjadi salah satu infrastruktur pendukung dibukanya Jalur Luar Lingkar Timur (JLLT)  yang akan berimbas pada kemajuan ekonomi warga sekitar Pantai Kenjeran.

“Intinya, kami ingin warga Kota Surabaya dapat melihat keindahan wisata Pantai Kenjeran. Saat ini, mereka hanya melihat Kenjeran sebagai kawasan yang digunakan muda-mudi memadu kasih. Namun pantai ini sebenarnya cocok untuk wisata keluarga karena banyak menawarkan wisata kuliner khas yang tidak ditemui di daerah lain,” tutur dia.

Tak hanya itu saja, Kota Surabaya termasuk beruntung karena memiliki kawasan pesisir pantai yang cukup luas di wilayah Gunung Anyar hingga Kenjeran. Kawasan pesisir tersebut sejatinya menyimpan potensi yang sangat luar biasa. Tidak hanya potensi wisata, tetapi juga potensi ekonomi dan ekologis.

Sadar dengan potensi yang luar biasa itu, Pemerintah Kota Surabaya menyiapkan berbagai strategi untuk menata kawasan pesisir Pantai Kenjeran. Harapannya, kawasan pesisir Pantai Kenjeran bisa menjadi ikon baru di Kota Surabaya yang menjadi jujugan bagi wisatawan lokal dan juga wisatawan mancanegara.

 

“Kawinkan” Area Wisata dengan Permukiman

jembatan-kenjeran-surabaya

Kepala Bidang Fisik Sarana dan Prasarana Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya AA Gde Dwija Wardhana mengatakan, kawasan pesisir Kenjeran memiliki potensi lengkap yang bisa dikembangkan. Selain wisata pantai, juga ada kawasan kampung nelayan dan juga Sentra Ikan Bulak (SIB) yang merupakan pusat pengolahan dan pemasaran hasil olahan laut oleh nelayan di Surabaya.

“Kenjeran itu lengkap. Dari dulu THP (Taman Hiburan Pantai) Kenjeran sudah jadi jujugan. Sekarang, sudah ada pembangunan Jembatan Kenjeran, juga ada SIB. Nantinya ada Taman Bulak yang menjadi land mark baru Surabaya Utara. Nah, potensi itu akan semakin kita hidupkan melalui penataan kawasan pesisir Pantai Kenjeran,” tegas Gde Dwija.

Gde Dwija juga menjelaskan terkait penataan kawasan pesisir pantai, Pemerintah Kota Surabaya telah menetapkan pembagian zona penataan yang terdiri dari area pemukiman nelayan, area publik dan area wisata. Dari konsep tersebut, Pemerintah Kota Surabaya akan berupaya “mengawinkan” area wisata dengan permukiman nelayan.

“Kita berupaya mengembangkan potensi kawasan pesisir seperti kampung nelayan tanpa mengubah karakter budayanya. Kearifan lokal yang dan tetap kita pertahankan karena itu merupakan kelebihan yang ada di sana,” tutur Dwija.

Menurut dia, Pemerintah Kota Surabaya telah memiliki konsep wisata bahari yang sudah tertuang dalam visi misi kota. Konsep tersebut terbagi dalam beberapa zona. Di antaranya zona wisata satu yang merupakan wisata pesisir, zona wisata dua terdiri wisata pesisir THP Kenjeran, wisata religi, wisata budaya dan galeri seni dan olahraga ekstrem, lalu zona wisata tiga yang merupakan kampung wisata nelayan dan wisata industri olahan hasil laut.

“Dinas Pariwisata juga sudah buat master plan nya. Ini tinggal implementasi nya,” paparnya.

Pakar Tata Kota Prof Johan Silas mendukung rencana Pemkot Surabaya untuk kembali menghidupkan kawasan pesisir pantai. Apalagi, Surabaya memiliki garis pantai yang cukup panjang. Menurutnya, rencana tersebut merupakan bagian untuk menjadikan Surabaya sebagai kota dunia (world city). Apalagi, tahun depan, Surabaya akan menjadi tuan rumah penyelenggaraan konferensi UN Habitat di mana ribuan delegasi dari berbagai negara akan hadir. Karenanya, sangat penting untuk menjadikan kawasan pesisir Kenjeran sebagai salah satu destinasi bagi para tamu, selain kawasan Tunjungan yang menawarkan street performance.

“Kenjeran ini rekreasi pantai yang sangat kuat. Tantangan kita adalah menampilkan potensi Kenjeran dengan menghadirkan rekreasi pantai yang bagus dan berkelas dunia tetapi tanpa menghilangkan kekhasan Surabaya nya. Sehingga bisa menjadi jujugan bagi tamu-tamu yang datang,” ujar Johan Silas.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya, Wiwiek Widayati menambahkan, selama ini, jumlah wisatawan yang datang ke kawasan Kenjeran menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun.

Dia mencontohkan, untuk kunjungan wisatawan mancanagera (Wisman) ke kawasan Kenjeran, dari jumlah 200-an Wisman yang berkunjung pada tahun 2013, kemudian meningkat menjadi 300-an Wisman pada 2014. Itu belum termasuk wisatawan lokal yang mencapai ratusan ribu dan juga menunjukan grafik meningkat.

“Artinya, dengan yang ada sekarang, kawasan pesisir Kenjeran sudah bisa mendatangkan orang sebanyak itu. Ini peluang yang bisa terus kita kembangkan. Ke depan, dengan semakin banyaknya potensi dan varian wisata yang ada, kalau tergarap dan saling terkait, tentunya kita berharap pesisir Kenjeran semakin diminati,” ujar Wiwiek. (bersambung/wh)