Usai Pemilu, Tarif Listrik Industri Naik

Usai Pemilu, Tarif Listrik Industri Naik

Tarif Tenaga Listrik (TTL) untuk kalangan industri diputuskan bakal naik usai pelaksanaan Pemilihan Umum Legislatif (Pileg), 1 Mei 2014 mendatang.  Keputusan itu diketok  dalam rapat dengan pendapatan antara Menteri ESDM Jero Wacik dengan Komisi VII DPR RI di Jakarta, Selasa (22/1/2014).

Kenaikan ini diperlakukan bagi industri golongan I3 dengan daya 200 kilovolt ampere (kVa) dan I4 dengan 30.000 kVa.

Menurut Jero Wacik, awalnya kenaikan tariff listrik akan dimulai  pada Januari 2014. Namun karena mendekati Pemilu pada April mendatang, maka kenaikan tarif listrik diundur menjadi bulan Mei 2014. “Kami menjaga kondusivitas karena April itu bulan penting bagi bangsa yaitu Pemilu. Kalau jadi naik Januari dan disetujui DPR nanti kita yang dimarahi rakyat,” katanya.

Ia menjelaskan, kenaikan tarif listrik pelanggan I3 dan I4 ini dapat dilakukan secara sekaligus maupun bertahap. Apabila dilakukan secara sekaligus maka kenaikannya sebesar 38,9 persen bagi pelanggan I3, sedangkan untuk pelanggan I4 kenaikannya sebesar 64,7 persen.

Namun jika kenaikan bertahap maka kenaikan tarif listrik dilakukan setiap empat bulan dengan rincian untuk pelanggan I3 kenaikan bertahap sebesar 8,6 persen sementara untuk pelanggan I4 kenaikannya sebesar 13,3 persen. “Pelanggan I4 tercatat mencapai 61 pelanggan, sedangkan I3 tercatat 371 pelanggan. Diperkirakan akan menghemat subsidi sebesar 8,85 triliun tahun depan,” terangnya.

Selain itu, pemerintah juga akan menyesuaikan tarif listrik secara otomatis bagi golongan rumah tangga besar R3 dengan daya 6.600 volt ampere (VA) ke atas. Kemudian, imbuh dia, penyesuaian otomatis juga akan dilakukan bagi pelanggan industri menengah (B-2) dengan daya 6.600 VA-200 kVA dan golongan pelanggan bisnis besar (B-3) dengan daya di atas 200 kVa dan golongan pelanggan kantor pemerintah sedang (P-1) dengan daya 6.600 VA-200 kVA.

Dikatakannya, penyesuaian tarif listrik ini dilakukan berdasarkan faktor nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, inflasi dan ICP (Indonesia Crude Price). “Tarif diterapkan pada 1 Mei 2014 dengan penghematan subsidi sebesar Rp1,42 triliun,” kata dia.

Sedangkan, kata Jero, bagi pelanggan 450-900 watt tidak mengalami penyesuaian tarif karena dinilai pemeritah layak mendapatkan subsidi. Kendati demikian, Jero mengajak bagi semua pelanggan khususnya yang disubsidi oleh pemerintah agar berhemat menggunakan listrik. (ram)