Urban Farming sebagai Solusi Lahan Terbatas

 

Urban Farming sebagai Solusi Lahan Terbatas
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini memilih produk pertanian yang dipamerkan di Taman Surya, Minggu (12/7/2015). arya wiraraja/enciety.co

Kepala Dinas Pertanian (Distan) Kota Surabaya Djoestamadji mengatakan, dengan kondisi lahan yang terbatas, salah satu opsi yang paling ideal adalah dengan menerapkan konsep urban farming.

”Konsep tersebut pada prinsipnya memaksimalkan lahan yang sempit sehingga dapat dimanfaatkan untuk kegiatan bercocok tanam, budidaya ikan dan peternakan,” paparnya saat Gelar Produk Pertanian, Perikanan dan Peternakan di halaman Taman Surya pada Minggu (12/7/2015).

Upaya-upaya yang dilakukan Distan Kota Surabaya di samping kegiatan gelar produk, yaitu dengan memfasilitasi penyediaan alat serta pemberian pelatihan. “Tahun lalu, distan membantu penerapan urban farming bagi 3.000 kepala keluarga (KK) untuk produk pertanian dan 2.000 KK untuk produk perikanan,” ungkapnya.

Djoestamadji menjelaskan, saat ini lahan yang difungsikan untuk pertanian di Surabaya seluas 1.400 hektare. Adapun komoditi andalan Kota Pahlawan antara lain jamur, blewah, melon, semangka, sawi, tomat, cabe dan beberapa sayuran lainnya. “Komoditi pangan utama seperti padi dan jagung juga tetap kita pertahankan,” kata pejabat kelahiran Banjarnegara itu.

Salah satu bentuk penerapan konsep urban farming yakni bercocok tanam dengan sistem hidroponik. Fananah Firdausi, salah seorang pegiat Komunitas Hidroponik Surabaya (KHS) mengatakan bahwa pihaknya mengusung misi edukasi kepada publik, dengan kondisi lahan yang sempit kegiatan bercocok tanam tetap dapat dilakukan dengan murah, mudah dan menyenangkan.

Fananah menerangkan, sistem hidroponik menggunakan unsur utama air, bukan tanah. Beberapa pelaku hidroponik ada yang menggunakan pecahan batu bata sebagai pelengkap. Sistem ini sangat praktis dan tidak memakan tempat. Tanaman cukup ditempatkan di pot-pot kecil atau pipa paralon di sudut-sudut rumah.

Perempuan yang tengah menempuh pendidikan pasca-sarjana jurusan Ilmu Biologi ini mengungkapkan, adapun keunggulan hidroponik selain praktis juga bebas pestisida, fungisida dan insektisida. Dengan demikian, produk yang dihasilkan lebih sehat bagi tubuh.

Beberapa komoditas yang bisa ditanam secara hidroponik antar lain, sawi, selada, bayam, brokoli, cabe, tomat, terong, dan sebagainya. “Tergantung nantinya masyarakat akan membawa sistem ini ke arah mana, apakah untuk hobi, hiburan, ketahanan pangan keluarga, atau skala bisnis,” imbuh dia.

Fananah menilai, masyarakat sudah mulai banyak yang tertarik dengan sistem hidroponik. Dia berharap antisiasme masyarakat lebih meningkat sehingga hidroponik dapat menyentuh seluruh kalangan masyarakat. (wh)