Unta KBS Kurus karena Ulah Pengurus Lama

Unta KBS Kurus karena Ulah Pengurus Lama
(kiri) foto unta KBS oleh Andrew Chant, MailOnline yang diambil pada November 2013. (kanan) foto unta KBS terbaru 13 Januari 2014. Artika Farmita / enciety.co

Kebun Binatang Surabaya (KBS) terus mendapat tekanan media asing. Kebun binatang tertua di Indonesia tersebut bahkan dijuluki sebagai Zoo of Death (Kebun Binatang Kematian) oleh MailOnline, media online asal Inggris. Jurnalisnya, Richard Shears, mengklaim foto-fotonya yang dimuat baru diambil November 2013 lalu.

Direktur Operasional PD Taman Satwa KBS, drh Liang Kaspe, mengakui beberapa foto-foto MailOnline tersebut. “Iya benar, unta KBS yang di website itu kurus. Tapi kurusnya sejak pengurus lama (Tim Pengelola Sementara, Red) KBS,” tegasnya kepada enciety.co, Senin (13/1/2014).

Namun kini, sambung dia, kondisinya jauh lebih baik. Tubuhnya memang masih kurus, namun tidak sekurus ketika pertama kali pengambilalihan pengelolaan kepada pemkot.

Liang lantas mengajak enciety.co mengamati kandang unta yang letaknya bersebelahan dengan kandang orang utan. Unta jantan asal Australia bernama East Step itu didatangkan tahun 1994. East Step terbilang pejantan unggul, karena telah menghasilkan keturunan yang banyak. Permasalahan muncul akibat pengurus lama memindahkan East Step dan 4 ekor betinanya pada kandang yang tak sesuai.

“Di asalnya Australia Barat sana, dia tinggal di kawasan padang pasir Broome. Sementara di kandang sebelah sini, lahan pasirnya gak ada. Jadilah merana,” paparnya.

Liang menjelaskan, unta-unta itu aslinya diletakkan di kandang bagian depan dengan pasir setebal 10 cm. “Sehingga dia bisa membersihkan diri di pasir,” imbuhnya.

Sebaliknya, di kandang belakang, East Step harus hidup pada habitat yang tak sesuai. Kandang jerapah tersebut dipaksakan menjadi kandang unta. Lahan tersebut disekat menjadi 3 bagian. Namun yang ada ialah tanah berumput, tak ada pasir.

“Waktu saya datang bulan Juli, tempat makannya rusak. Jadi kalau dia makan mendorong-dorong, lalu jatuh ke seberang. Dia nggak bisa mengambil,” ujarnya.

East Step pun tak mampu membersihkan diri karena tak ada debu. Yang terjadi justru tubuhnya semakin kotor akibat rumput yang basah. “Otomatis kena penyakit kulit, badannya kurus karena makanannya nggak bisa penuh. Kan tempat makannya rusak, nggak diperbaiki,” tambahnya.

Program penggemukan pun diupayakan oleh timnya. Liang mengungkapkan, penggemukan butuh waktu berbulan-bulan. Peningkatan gizi dan perbaikan tempat makan East Step dan kawan-kawannya dilakukan.

Liang lalu mengatakan, pekerjaan rumah berikutnya adalah pemindahan unta-unta tersebut ke sangkar yang lama. Serta, menukar posisi jerapah kembali ke kandang asalnya di bagian belakang.

“Masalahnya mindah jerapah itu nggak gampang. Karena jerapah harus disediakan kotak, faktor stres-nya tinggi. Kami tidak ingin hanya pindah saja, lalu jerapahnya nendang terus mati. Kan nggak mungkin jerapah disuruh jalan sendiri,” jelasnya.

Menurut Liang, memindahkan jerapah dengan aman adalah yang utama. para pegawai KBS, katanya, tak ingin mencelakai binatang. Berbagai tantangan itu tidak menjadi kendala saat memindahkan unta.

“Kalau memindah unta, beres. Mereka hewan yang terlatih sebagai unta tunggang. Tinggal diikat, dipindah, selesai,” tandasnya.(wh).