Unas Online, Surabaya Butuh 41.935 Unit Komputer

Unas Online, Surabaya Butuh 41.935 Unit Komputer
Ketua Dewan Pendidikan Surabaya Martadi dan Kepala Dinas Pendidikan Surabaya Ikhsan memberikan keterangan pers di Graha Sawunggaling Jumat (20/2/2015).

Untuk menyelenggarakan program Ujian Nasional (Unas) Online Surabaya membutuhkan sedikitnya 41.935 unit komputer. Jumlah itu adalah sepertiga dari jumlah total siswa yang ada di Surabaya yang mencapai 125.806 siswa yang akan melaksanakan Unas pada tahun ini.

Kepala Dinas Pendidikan (Dipendik) Kota Surabaya Ikhsan mengatakan, untuk menyelenggarakan Unas Online pihaknya telah berkoordinasi dengan nasional untuk menyiapkan sarana dan prasarana. Mulai dari pengadaan jaringan, komputer, dan sarana dan prasarana lainnya.

“Sementara ini kesiapan kami untuk menyelenggarakan Unas Online sudah mencapai 80 persen. Jadi untuk pengadaan infrastrukturnya nanti semua anggaran dari pemerintah pusat. Sedangkan di daerah kami menyiapkan komputernya di masing-masing sekolah,” jelasnya saat menggelar jumpa pers di Graha Sawunggaling, Jumat (20/2/2015).

Dijelaskan Ikshan, jumlah siswa SD yang akan mengikuti Unas tahun ini sebanyak 46.003 siswa, SMP 43.185 siswa, SMA 17.688 siswa, dan SMK 18.930 siswa. Jumlah tersebut terdiri atas 24 SMA, dan 30 SMK di seluruh Surabaya.

“Karena Unas pada tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya, atau tidak menjadi acuan kelulusan siswa maka saya pastikan beban siswa saat menjalani Ujian Nasional akan berkurang. Namun saya garis bawahi, tingkat kesulitan menghadapi ujian nanti akan sama dengan tahun sebelumnya,” bebernya.

Untuk menghindari dari upaya kecurangan Ikhsan juga menegaskan bahwa Unas Online ini menjadi pilihan yang tepat karena setiap siswa akan menghadapi soal  ujian yang berbeda dan pelaksanaannya terbagi atas tiga shift dalam sehari.

“Misalnya nanti siswanya 100 anak berarti nanti disiapkan komputer sepertiganya,” bebernya.

Pihaknya juga memastikan bahwa setiap komputer akan diberikan password dan telah dikarantina sebelum diinstal dan digunakan oleh para siswa. “Untuk pengawasnya nanti kami masih koordinasi dengan nasional,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Pendidikan Surabaya Martadi menambahkan, pelaksanaan Unas Online ini adalah hal yang baru di Indonesia, meski sebenarnya hal itu sudah sering dilakukan di Surabaya. Tapi masyarakat juga harus memahami bahwa Unas Online ini bukan alat ukur kelulusan.

“Konsentrasi kami yakni dua hal. Pertama unas ini harus dipahami masyarakat secara klir dan penjelasan lebih lanjut. Anak-anak saat ini masih sangat gamang, ini saya kira persoalan belum terbiasa saja. Tapi secara konsep Unas Online ini sangat bagus,” jelasnya.

Namun yang perlu diperhatikan katanya, adalah kesiapan infrastruktur. Di antaranya pengadaan komputer, jaringan dan lain sebagainya mengingat jumlahnya yang sangat banyak. “Saya ingin pak Ikhsan menyiapkan betul ini,” ujarnya. (wh)