UMKM Butuh Pendanaan dengan Sistem Crowdfunding

UMKM Butuh Pendanaan dengan Sistem Crowdfunding

Iliustrasi foto: realkm.com

Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak mendukung berbagai metode pendanaan untuk UMKM sebagai bentuk pemulihan ekonomi. Salah satunya dengan urun dana (crowdfunding).

Hal tersebut disampaikan Emil saat Pembukaan Toko Aneka Truss oleh PT. Balaraja Kencana Mas di Driyorejo, Gresik, Sabtu (14/5/2022).

Emil mengatakan, crowdfunding adalah bentuk support dari Pemprov Jatim terhadap keberlangsungan UMKM yang menyumbang hampir 57,81 persen perekonomian Jatim.

“Di tengah Pandemi Covid-19, sumber pendanaan untuk penguatan modal menjadi salah satu kendala bagi UMKM. Sehingga UMKM yang membutuhkan dana hingga maksimal sepuluh miliar untuk modal ini bisa kemudian menawarkan pendanaan kepada publik,” ujar Emil.

Layanan crowdfunding yang disebut Emil merupakan skema urun dana yang disokong oleh perusahaan-perusahaan dan investor di Jatim. Crowdfunding ini telah resmi diatur dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“Ini adalah sebuah terobosan di dunia teknologi finansial atau fintech yang memang telah resmi diatur oleh OJK. kita juga harus bicara bagaimana pasar modal harus lebih membumi,” katanya.

Sebagaimana Wagub Emil katakan, Asosiasi Layanan Urun Dana Indonesia (ALUDI) menyampaikan bahwa ada penerbit securities crowdfunding (SCF) yang akan membuka toko UMKM hasil urun dana dengan para investor. Adalah Toko Aneka Truss di Driyorejo, Gresik, yang didirikan dengan bantuan crowdfunding dan dibuka serta diresmikan hari ini.

Emil berharap agar model-model seperti ini dapat membangkitkan perekonomian di Jatim. Dari dibukanya toko ini, akan ada efek bola salju positif yang memicu munculnya toko-toko dengan pendanaan serupa.

“Dari toko-toko seperti inilah ekonomi Jatim bergerak.  Karena 57,81 persen dari perekonomian Jatim ini adalah kontribusi UMKM. 1/6 ekonomi indonesia dari Jatim. Kita harus berpihak pada UMKM. Yang kita saksikan hari ini adalah contoh yang saya harap dapat menghasilkan snowball effect,” tegasnya.

Emil beraspirasi, pembukaan ini akan membuat banyak wirausaha bisa mewujudkan idenya. Harapannya akan ada sebanyak 9.8 juta UMKM lainnya di Jatim dapat mengikuti dan termotivasi.

“Ini potensi yg luar biasa. Ekosistemnya besar untuk diakses oleh pelaku crowdfunding. Ini akan jadi model baru yang menarik di mana penerbit di Jatim dapat berkontribusi dengan lebih lagi. Bagaimana pelaku usaha di Jatim dapat membuka bisnisnya untuk layanan urun dana. Dan bagaimana modal satu juta rupiah dapat ikut urun saham dengan tanggung jawab tata kelola sebagai penerbit,” tambahnya.

Ini contoh yang oleh Emil dipandang bisa menjadi motivasi untuk turut berkemelut di bidang fintech. Jangan sampai fintech dikenal oleh orang-orang semata sebagai pinjaman online yang mengerikan, celetuknya.

Dengan adanya skema crowdfunding yang potensial bagi UMKM ini, Emil berharap Jatim juga dapat menjadi tuan rumah industri. Baik dari segi barang melalui UMKM dan juga keuangan.

Hal ini, menurut Emil, juga berpotensi pada pemulihan ekonomi melalui peningkatan konsumsi produk dalam negeri.

“Berbagai pihak bersatu padu memberiksn perhatian yang tinggi terhadap ikhtiar untuk membangkitkan UMKM Jatim. Salah satunya dengan kontribusi fintech dalam hal pendanaan yang akan menunjang konsumsi produk lokal,” sebutnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, Emil memaparkan, potensi ekonomi kreatif Jatim yang cukup besar ini didominasi oleh sektor kuliner (74,07 persen), fesyen (14,41 persen), dan kriya (7,25 persen).

Emil optimistis, kecintaan terhadap produk lokal, didukung dengan kontribusi melalui pendanaan dalam bentuk crowdfundjng, akan meningkatkan kebanggaan masyarakat Jatim dan Indonesia terhadap local brands.

“Potensi ekonomi kreatif tersebut akan dapat dioptimalkan dengan menumbuhkan kecinraan terhadap produk lokal dan meningkatkan kebanggaan kita dalam menggunakan produk tersebut,” tukasnya

Emil pun berdialog dengan beberapa investor yang hadir. Seperti Iskandar dari Lamongan dan Ririn dari Gesangan yang telah lebih dari sekali berinvestasi pada UMKM dalam negeri. Mereka mengatakan, ada kepuasan serta kenyamanan tersendiri ketika bisa berinvestasi dan berbelanja di toko dimana mereka turut menanamkan modal.

“Saya senang dapat berinvestasi di suatu toko yang dekat dengan saya, apabila membutuhkan sesuatu, bisa berbelanja di toko yang rasanya milik sendiri jadi jauh lebih nyaman. Saya merasa dapat saling menguatkan dan mendukung dengan sesama,” tandas Ririn. (wh)