UMK dan Pentingnya Perencanaan Strategi Pemasaran

UMK dan Pentingnya Perencanaan Strategi Pemasaran

Unung Istopo Hartanto, peneliti senior Enciety Business Consult

Dinamisnya pergerakan roda ekonomi Indonesia tak bisa lepas dari dorongan mesin usaha UMK. Lebih dari 26 juta unit usaha ini memegang peranan dalam menguatkan tenaga kerja dan nilai tambah.

Menyadari besarnya porsi UMK dalam ruang bisnis ini, penting juga untuk memahami bagaimana pelaku usaha menghadapi pandemi. Hasil analisis hasil survei dampak covid-19 yang dirilis BPS September 2020 menyatakan bahwa 84% UMK sangat terdampak mengalami penurunan pendapatan dan 33% melakukan pengurangan tenaga kerja. Sektor jasa akomodasi, makan minum, transportasi, pergudangan dan jasa lainnya merupakan sektor yang paling terdampak.

Penurunan permintaan dari pelanggan akibat pandemi ini serta perubahan kebutuhan pada pelanggan turut mengasah kemampuan untuk berevolusi dan bertransformasi dalam menemukan keunggulan kompetitif masing-masing.

UMK makin sadar untuk terus menapak pada tiap tahapan proses. Menjamin kualitas produksi yang bagus, memiliki daya saing serta memiliki posisi nilai yang unggul di pelanggan. Memastikan jalur distribusi dengan efektivitas biaya logistik. Serta penting untuk memulai mengelola data dan informasi dengan benar. Menjadikan data sebagai sumber pengambilan keputusan bisnis. Dimulai dengan keberanian menyusun dan merancang riset mandiri. Yang akhirnya meletakkan pelanggan sebagai sumber energi, yang turut menjadi kekuatan untuk bertahan dan tetap tumbuh di tengah perubahan yang sangat cepat ini.

Kemauan untuk terus tumbuh ini tentu harus diiringi dengan kemampuan dalam melihat strategi pemasaran dari perspektif two-dimensional marketing space (product-centric dan customer-centric). Kedua fokus strategi ini dapat membagi UMK menjadi empat bagian dari sisi cara meningkatkan pendapatan dan bertahan.

Pertama, pelaku usaha yang memiliki basis pelanggan besar, dengan marketshare tinggi serta ragam produk yang banyak maka sangat penting untuk meningkatkan share of wallet (share of customer). Memberikan pilihan kepada pelanggan untuk terus mendapatkan layanan dan menambah layanan atau produk baru. Serta menjaga kepuasan dan loyalitas.

Kedua, pelaku usaha yang fokus meningkatkan pendapatan selama pandemi dengan menguatkan pasar. Usaha ini tidak memiliki ragam produk yang banyak. Sehingga fokus utama yang dilakukan adalah memperbesar pasar, salah satunya melalui go-digital. Upaya meningkatkan market share ini juga tentu harus dibarengi dengan peningkatan kualitas produk (product-centric) dan kecepatan layanan. Yang diharapkan akan menciptakan positive word of mouth (promoters).

Ketiga, merupakan kelompok yang fokus pada pelanggan yang terbatas, namun memiliki beragam produk dan layanan. Menawarkan layanan end to end, agar pelanggan mampu meningkatkan nilai tambah pada proses bisnisnya, yang diiringi dengan jaminan kualitas. Dominasi customer-centric ini menuntut pelaku usaha untuk memahami pelanggan dengan benar, terus melakukan design of experiment, kecepatan dalam merespon umpan balik untuk perbaikan dan mempersiapkan back office yang baik.

Keempat, kelompok yang memiliki pelanggan terbatas dan produk tidak beragam. Tentunya fokus untuk meningkatkan pendapatan adalah memilih untuk memperbesar distribusi ataukah melakukan diversifikasi produk.

Pilihan untuk melompat dari satu kuadran ke kuadran lainnya bukan hanya membutuhkan komitmen, namun juga modal usaha yang tidak sedikit. Sehingga ketepatan dalam menentukan strategi akan memperbesar peluang pelaku usaha untuk tetap tumbuh di tengah pandemi maupun nanti setelah pandemi ini berakhir.

Perubahan dari ekonomi industri menjadi ekonomi digital, memang sangat dirasakan. Perubahan dari kondisi yang stabil, linear dan dapat diprediksi menuju pada kondisi yang sangat mudah goyah, sulit diprediksi dengan lifecycle produk yang pendek. Sehingga semuanya butuh perencanaan dan kesabaran di tengah persaingan yang luar biasa. Mengutip pepatah Jawa, “Alon-alon waton klakon. Wong sabar, rejekine jembar. Wong ngalah, uripe berkah”.

 

Salam. (*)