Ukuran Otak Manusia Bukanlah Segalanya

Ukuran Otak Manusia Bukanlah Segalanya

Manusia adalah spesies yang unik. Ia memiliki otak, yang sekaligus menyimpan bagian lain dari diri kita. Yakni pikiran. Pikiran manusia dapat melaksanakan tugas-tugas kognitif yang hewan lain tidak bisa lakukan. Seperti menggunakan bahasa, membayangkan masa depan yang jauh, dan menyimpulkan apa yang orang lain pikirkan.

Pun, otak manusia yang luar biasa. Benda seberat tiga kilogram itu, adalah raksasa yang menjalin hubungan erat dengan ukuran tubuh kita. Para ilmuwan telah lama menduga bahwa otak besar dan pikiran yang kuat sangat erat hubungannya.

Tetapi para ilmuwan telah lama berjuang untuk memahami, bagaimana peningkatan sekecil apapun dalam ukuran, dapat menyebabkan evolusi. Seperti yang ditulis New York Times, dua ahli saraf Harvard, Randy L. Buckner dan Fenna M. Krienen, telah berhasil menawarkan penjelasan yang kuat mengenai otak manusia.

Di masa nenek moyang manusia yang mempunyai otak lebih kecil, para peneliti berpendapat, neuron erat ditambatkan dalam pola koneksi yang relatif sederhana. Ketika otak nenek moyang kita ‘diperluas, mereka jalinannya robek dan terpisah. Kemudian memungkinkan neuron untuk membentuk sirkuit baru.

Dr Buckner dan Dr Krienen menyebut ide mereka sebagai tether hypothesis. Hipotesis tersebut muncul dalam jurnal Trends in Cognitive Sciences edisi Desember. Keduanya mengembangkan hipotesis dari pembuatan peta terperinci dari sambungan di otak manusia menggunakan fMRI scanner. Ketika mereka membandingkan peta mereka dengan orang-orang dari otak spesies lain, mereka melihat beberapa perbedaan mencolok.

Lapisan luar otak mamalia dibagi menjadi daerah yang disebut korteks. Korteks visual, misalnya, menempati bagian belakang otak. Itu adalah di mana neuron memproses sinyal dari mata, mengakui tepi, bayangan, dan fitur lainnya.

Ada pula korteks untuk indera yang lain. Korteks sensorik menyampaikan sinyal ke satu set daerah yang disebut korteks motorik. Korteks motorik mengirimkan perintah. Sirkuit ini baik untuk mengontrol perilaku mamalia dasar. “Anda mengalami sesuatu di dunia dan Anda menanggapinya,” kata Dr Krienen.

Perilaku yang relatif sederhana ini tercermin dalam bagaimana neuron disambungkan. Sebagian besar neuron dalam satu wilayah, membuat koneksi pendek ke daerah tetangga. Mereka membawa sinyal melalui otak seperti seember brigade dari korteks sensorik menuju korteks motorik.

Brigade tersebut mulai terbentuk ketika mamalia masih embrio. Wilayah yang berbeda dari otak, alam merilis sinyal kimia. Ia nantinya yang menarik neuron-neuron hingga berkembang.

“Mereka akan memberitahu neuron, ‘Kau ditakdirkan untuk pergi ke bagian belakang otak dan menjadi neuron visual’, misalnya, “kata Dr Krienen.

Setelah mamalia lahir, pengalaman mereka terus memperkuat jaringan kabel ini. Seiring berjalannya waktu, mamalia melihat dunia lebih banyak. Maka, neuron dalam bentuk korteks visual lebih banyak terkoneksi ke korteks motorik, sehingga brigade itu bergerak lebih cepat dan lebih efisien.

Otak manusia memang berbeda. Ketika mereka bertambah besar, korteks sensorik dan motorik mereka nyaris tidak diperluas. Namun sebaliknya, daerah yang berada di antara keduanya yakni korteks asosiasi, yang mekar.

Korteks asosiasi manusia sangat penting. Pada bagian itulah manusia dikatakan unggul. Di antara tugas-tugas lainnya, korteks asosiasi sangat penting untuk membuat keputusan, mengambil kenangan, dan refleksi diri.

Korteks asosiasi juga tidak biasa untuk tersambung. Mereka tidak terhubung dalam bentuk sederhana, layaknya pola seember brigade yang ditemukan pada otak mamalia lainnya. Sebaliknya, mereka terhubung satu sama lain dengan pengabaian yang liar. Sebuah peta dari korteks asosiasi terlihat kurang seperti jalur perakitan dan lebih seperti Internet, dengan masing-masing daerah terkait dengan orang lain. Antara dekat dan jauh.

Dr Buckner dan Dr Krienen berpendapat bahwa perubahan ini terjadi karena menyesuaikan cara otak berkembang. Dalam otak manusia, beberapa neuron masih menerima sinyal kimia yang menyebabkan mereka membentuk ember brigade dari korteks sensorik menuju korteks motorik. Tetapi karena ukuran otak, beberapa neuron terletak terlalu jauh dari sinyal untuk mengikuti perintah mereka. “Mereka mungkin patah dan justru membentuk sirkuit baru,” tutur Dr Buckner.

Kabel baru inilah yang mungkin berperan penting dalam evolusi pikiran manusia. Korteks asosiasi kita membebaskan kita dari respon cepat dibandingkan dengan otak mamalia lainnya. Daerah otak baru inilah yang bisa berkomunikasi tanpa input dari dunia luar. Lantas, menemukan wawasan baru tentang lingkungan kita dan diri kita sendiri.

Dr Buckner meramalkan sejumlah cara di mana tether hypothesis bisa diuji. Sebagai contoh, banyak otak mamalia, termasuk simpanse, belum sepenuhnya dipetakan. “Kami berharap bahwa dalam 10 atau 15 tahun ke depan, yang mungkin menjadi mungkin,” ujarnya.

Dr Sherwood, pakar dari George Washington University, memuji hipotesis tersebut karena membuat teori jadi ‘cukup hemat’. Munculnya pikiran manusia, bisa jadi bukan merupakan hasil dari sejumlah besar mutasi yang mengubah struktur halus dari otak manusia. Sebaliknya, peningkatan sederhana dalam pertumbuhan neuron yang tidak menjalina mereka dari jangkar evolusioner mereka, menciptakan kesempatan bagi pikiran manusia untuk muncul.(wh)