Ubah Wajah Kampoeng Lawas Maspati jadi Sentra Bisnis

Ubah Wajah Kampoeng Maspati jadi Sentra Bisnis
Cak Sabar ikut memberdayakan warga Kampoeng Lawas Maspati menjadi pusat bisnis dan wisata di Surabaya. foto: sandhi nurhartanto/enciety.co

Pahlawan Ekonomi Surabaya bukan hanya menyasar keluarga, tapi juga menyentuh banyak komunitas. Salah satunya Kampoeng Lawas Maspati. Warga disana yang dulu lebih mengenal kampungnya sebagai situs cagar budaya, kini menyulapnya menjadi sentra bisnis dan penjualan produk homemade.

Tak tanggung-tanggung, mereka bukan hanya membidik wisatawan lokal, tapi wisatawan mancanegara. Jelang diberlakukannya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) akhir tahun ini, warga Kampoeng Lawas Maspati pun terus berbenah diri.

Ketua Rukun Warga 08 Kampoen Lawas Maspati, Sabar Swastono, saat ditemui enciety.co mengakui bila ide ini dimulai sejak tiga tahun lalu. Saat itu, dirinya bersama warga lain berkeinginan menjadikan kampung yang berdekatan dengan Tugu Pahlawan ini, menjadi kampung unggulan di Surabaya.

“Kami berkali-kali menang baik lomba lingkungan. Warga yang guyub membuat saya lebih mudah mengumpulkan ide ini,” kata Sabar yang membawahi RT 01-RT 06 tersebut.

Keberadaan kampoeng lawas Maspati ini berada di gang V dan VI. Menurut pria berumur 46 tahun itu, dasar pemikirannya adalah kota Surabaya banyak dipenuhi oleh kampung-kampung tua. Seperti Alun-alun Contong, Praban, Bubutan, Kawatan, Maspati, Plampitan dan Kalimas.

“Menurut sejarah, kampung-kampung itu adalah pusat pertama kali bisnis di Surabaya,” ujarnya.

Maspati 5  Maspati 2

Ia bersama 1.350 jiwa yang mendiami RW 08 ini ingin bersama-sama menjadikan ikon sejarah dibanding dijual ke investor. Dari data yang ada, jumlah pengganguran di Kampung Maspati berkisar 10 persen di usia produktif dan 10 persen di usia tidak produktif.

Dengan adanya Kampoeng Lawas Maspati ini, diharapkan warga yang menggangur akan terbantu perekonomiannya. Di tempat ini tersedia berbagai produk milik masyarakat maspati sendiri. Ada yang menjual makanan khas Surabaya seperti rujak cingur dan semanggi. Juga tersedia pakaian khas Suroboyo, mukena, tas, jilbab, kaos, hem, dan produk handmade seperti klutuk klutuk mainan anak.

Juga dijual ini barang kerajinan warga, contoh keripik dadu, keripik tahu, kripik stik ketela, minuman markisa, blimbing wuluh,cincau, es cream terong dan minuman jahe, manisan tomat dan minuman lidah buaya.

Hasil-hasil buatan warga ini kemudian dipajang dan dijual di koperasi Kampoeng Lawas yang berdiri di ujung jalan sebelah Jalan Bubutan selama sebulan ini. Di tempat ini juga tersedia warung atau kedai kampoeng lawas.

“Seluruh warga kami jadikan pengurus koperasi. Satu hari kami berhasil mendapatkan Rp 200-300 ribu dari penjualan kopi dan cinderamata yang kecil,” tuturnya.

Karena menjadi anggota koperasi, setiap warga diharuskan untuk menjaga toko mereka. Mereka tidak diperkenankan libur dan diharuskan menjaga baik toko maupun warung secara bergilir. Dan karena akses jalan yang bersebelahan dengan jalan Bubutan, yang beli kebanyakan warga dari luar.

Kampoeng Lawas Maspati ini akhirnya menarik perhatian Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini untuk mengunjungi kawasan ini. Wali Kota dua periode ini juga mengajak SKPD terkait guna melihat perkembangan yang ada di tempat itu.

“Usai Bu Risma, seminggu ini kami juga dikunjungi oleh Timothy Lee, seorang creator design dari Jakarta. Ia dari bandara langsung kesini dan mengaku senang dengan Kampoeng Lawas Maspati,” ucapnya.

Bu Risma juga memberikan fasilitas pelatihan gratis yang diadakan Pahlawan Ekonomi bagi siapa saja warga Kampoeng Maspati yang ingin meningkatkan kualitas dan kapasitas bisnis. Beberapa pelatihan yang disediakan diantaranya packaging, branding, internet marketing, literasi keuangan,  dan masih banyak lagi.

Kini, Kampoeng Maspati sudah makin dikenal. Banyak wisatawan asing datang ke di antaranya dari Belanda dan Australia. Rencananya, warga Korea dan mahasiswa se Asia Pasifik untuk melakukan kunjungan ke Kampoeng Lawas Maspati pada 24 Desember 2015.

Para wisman itu nantinya akan diperlihatkan produk buatan warga Maspati agar dibeli untuk menunjang perekonomian penduduk agar meningkat. Mereka tertarik karena mengetahui ada 10 rumah sejarah dikampung ini.

Dijelaskan oleh sabar, untuk wisman yang datang berkunjung memakai bus pariwisata tempat rutenya adalah jalan Semarang. Disana wisman akan dihentikan di Maspati gang kecil dan setiap tamu akan diberi welcome drink.

Selanjutnya, rombongan akan masuk ke RT 3 yang menjadi juara green and clean. Dilanjut ke RT 2 yang memproduksi pembuatan cincau dan jahe di setiap rumah. Sedangkan di RT 1 ada sisi historis atau sejarah yaitu berdirinya sekolah Ongko II atau Sekolah Belanda untuk buta huruf bagi pribumi.

“Juga disini ada rumah yang berdiri di tahun 1926. Usai sejarah merka akan kami giring untuk masuk kantor koperasi yang ada barrmini. Lanjut masuk gang 6 yg disuguhkan permainan tradisional mulai teklek, dakon, nekeran,” kata Sabar.

Di tempat ini juga ada makam mbah Buyut Soro yang merupakan kakek nenek dari pahlawan Surabaya  Sawunggaling atau pendiri kampoeng Maspati. Para wisman nanti juga akan dihibur musik patrol yang menjadi juara tahun ini di Pemkot Surabaya. Pulangnya, para wisman akan dijemput bis lewat jalan Penghela. (wh)