Ubah Pola Birokrasi, Hapuskan Budaya Minta Imbalan

Ubah Pola Birokrasi, Hapuskan Budaya Minta Imbalan
Chandra Oratmangun

Menjadi Kepala Dinas Pemadam Kebakaran (PMK) Surabaya pertama di Indonesia, tidak membuat Chandra Oratmangun berpangku tangan dan menunggu anak buahnya bekerja memadamkan api. Justru sebaliknya, ibu tiga anak itu bahkan sering turun tangan untuk memadamkan api, itulah cara adik Duta Besar Indonesia untuk Rusia, Djauhari Oratmangun dalam mengemban amanah sebagai pelayan publik.

Siang itu tidak ada aktivitas yang berat dilakukan oleh Chandra. Ditemui enciety.co, Kamis (30/10/2014) di ruang kerjanya, Chandra terlihat lebih santai dibanding hari-hari sebelumnya. Ini karena pada hari itu tidak ada kejadian kebakaran yang harus membuatnya jatuh pingsan seperti kejadian tahun yang lalu.

Pada November tahun lalu, ia memang dikabarkan pingsan saat mencoba menjinakkan api. Ini karena saat ia memadamkan api, banyak asap yang dihirupnya dan membuat tubuhnya tidak kuat menahan ganasnya api.

Namun dari pengalaman-pengalaman itu, membuat Chandra semakin sadar bahwa pengorbanannya saat ini adalah untuk masyarakat Surabaya yang mengalami musibah kebakaran. “Filosofi saya yakni kekayaan terbesar adalah bisa melayani masyarakat,” tuturnya.

Diceritakan oleh Chandra, filosofinya ini ia dapatkan dari sang ibu yang ternyata adalah aktivis sosial sekaligus mantan kepala sekolah di Maluku Tenggara Barat. “Ibu saya itu orang hebat. Dulu ia sering membantu masyarakat dan saya diajarkan banyak hal olehnya,” ceritanya.

Watak inilah yang tertanam di dalam hati Chandra. Sebagai Kepala Dinas PMK Surabaya ia memegang teguh prinsipnya untuk melayani masyarakat. Bahkan ia sebagai Kepala Dinas pertama yang mengubah birokrasi di lembaga yang ia pimpin.

Ini karena sebelum ia memimpin, petugas PMK Surabaya diakuinya sering meminta imbalan saat bertugas memadamkan api. Saat menjumpai banyaknya petugas kebakaran yang meminta imbalan kepada korban kebakaran ini membuat Chandra bertindak tegas dengan mengancam akan dipecat dari jajarannya.

“Awalnya (saat baru memimpin) itu berat banget mas. Banyak petugas PMK yang minta imbalan. Saya tegas saja, pekerjaan kita adalah pengabdian dan pelayanan untuk masyarakat. Apalagi korban juga sedang terkena musibah tidak sepatutnya kita meminta-minta karena itulah tugas kita,” tegasnya.

Dari langkah awalnya membenahi birokrasinya yang saat itu carut marut pun mulai berhasil. Saat ini pun tidak ada satu petugas pun yang berani lagi meminta-minta imbalan kepada korban kebakaran seperti sebelum ia memimpin. Kalau ketahuan resikonya bisa diberhentikan secara tidak hormat.

Tidak hanya itu, mantan Kepala Bakesbang Linmas Kota Surabaya itu juga mengaku menggerakkan Srikandi Baruna (Petugas PMK perempuan) untuk turut terjun saat terjadi kebakaran. Ini karena sebelumnya para Srikandi Baruna sering bermalas-malasan di kantor dan hanya berdiam diri di kantor.

“Di sini ada 16 Srikandi Baruna yang sekarang siap tempur setiap saat untuk memadamkan api. Setiap pagi kami juga memberlakukan adanya olah raga dan baris berbaris. Ini berfungsi untuk menyigapkan petugas agar otot-otot tidak kaku saat memadamkan api,” jelasnya.

Diakui oleh Chandra, awalnya dengan diberlakukan terobosan ini banyak petugasnya yang kelabakan dan protes. Tapi setelah dijelaskan oleh Chandra, petugas yang 95 persennya didominasi laki-laki itu pun luluh dan sadar akan pentingnya menjaga kebugaran.

Langkah Chandra dalam mengubah birokrasi di PMK Surabaya berdampak pula pada kepercayaan masyarakat. Ini karena dulu PMK Surabaya diakui oleh Chandra sebagai tempat buangan para Pegawai yang memiliki catatan buruk di jajaran Pemkot Surabaya.

“Sekaran itu berbalik, banyak pegawai di jajaran SKPD lain yang justru minta masuk PMK Surabaya,” bangganya.

Kesuksesan itulah yang membuat nama Chandra semakin dikenal masyarakat. Meski begitu, tidak membuat Chandra kendur untuk terus terjun ke lapangan untuk memadamkan api. “Sebagai pemimpin ya harus terjun ke lapangan mas. Karena pejabat adalah pelayan masyarakat, jadi kita harus melihat TKP dan pantang pulang sebelum padam,” imbuhnya.

Sampai saat ini Chandra selalu turun untuk membantu anak buahnya memadamkan api. Bahkan saat malam hari pun ia turun ke lapangan.

“Seperti pada akhir Minggu lalu ada kebakaran hebat di kawasan Surabaya Barat. Itu kebakarannya besar sekali mas. Bu Risma sampai jam 2.00 WIB pagi ikut membantu. Saya jam 06.00 WIB pagi baru selesai lalu pulang, mandi, dan datang ke kantor, meski di kantor saya tidur tapi setidaknya saya siap siaga,” ceritanya. (wh)