Ubah Paradigma, 10 Lansia Ciptakan Batik Kedungasem

Ubah Paradigma, 10 Lansia Ciptakan Batik Kedungasem
(dari kiri) Tri Hartati, Sumiati, Sri Winarni, Suryani, Sukini, dan Sulastri saat berpose di Road Show Pahlawan Ekonomi Kecamatan Rungkut dan memamerkan hasil karyanya, Minggu (23/11/2014).

Menjadi orang tua tidak harus berdiam diri di rumah dan tidak melakukan apa-apa. Justru sebaliknya, bagi nenek-nenek di Kecamatan Rungkut, tua itu saat-saat memiliki banyak waktu senggang untuk dimanfaatkan. Ini yang kemudian membuat sepuluh lansia menciptakan batik khas Kelurahan Kedungasem Rungkut yang diberi nama Batik Lansia.

Meski usia sudah tidak lagi muda, tenaga juga sangat rentan tapi semangat untuk bisa berkreativitas tidak pernah padam. Ihwal ini yang membuat para lansia di Kecamatan Rungkut membentuk komunitas Batik Lansia.

Diakui Sri Winarni (45), Batik Lansia sendiri tercetus sejak delapan bulan yang lalu. Tepatnya saat mereka sering berkumpul dan mengikuti pelatihan Pahlawan Ekonomi pada tahun lalu.

“Awalnya kami ingin ngajak ibu-ibu di Kelurahan Kedungasem, tapi ternyata nggak ada ibu-ibu. Semuanya pada kerja di pabrik dan nggak mau ikut kami,” ujarnya saat ditemui di sela-sela acara Road Show Pahlawan Ekonomi di Kecamatan Rungkut, Surabaya, Minggu (23/11/2014).

 

Karena yang terkumpul hanya para lansia, Sri Winarni bersama nenek lainnya pun memutuskan memberi nama Batik Lansia. “Karena semua anggotanya sudah tua. Dari pada di rumah nggak ngapa-ngapain, mendingan ikut Pahlawan Ekonomi menyalurkan kreativitas,” katanya.

 

Komunitas Batik Lansia ini pun tidak serta-merta langsung berdiri dan memiliki pasar luas. Delapan bulan yang berat harus dilalui oleh para wanita tua ini. Mereka dihadapkan pada permasalahan yang cukup mendasar, yakni terkait keterampilan membatik.

 

“Kami pun cari cara agar komunitas kami tetap bisa eksis. Salah satunya kami tidak memaksa semua anggota bisa membatik. Kami menjembatani kemampuan mereka masing-masing. Misalnya kalau bisa gambar ya kerjanya gambar, kalau bisa nyanting ya pegang canting, kalau bisanya mengonsep biasanya dia akan jadi konseptor batik,” jelas Sukini (60).

 

Akhirnya pun mereka saling bahu-membahu, bekerja sama untuk membuat selembar kain batik Kedungasem. Dimulai dari Tri Hartati, biasanya Hartati bertugas sebagai tukang gambar pola dan diteruskan konseptor Sumiati dan Sri Winarni untuk menggagas pola apa yang cocok untuk batik khas Rungkut.

 

“Batik Kedungasem sendiri adalah batik khas Rungkut dan tidak ada di daerah lainnya. Kami mengangkat batik tulis berpola khas kelautan, sesuai wilayah Rungkut yang dekat dengan kawasan pesisir. Mulai dari pola kerang, ikan, hingga rumput laut kami gambar sesuai kreativitas,” ujarnya.

 

Setelah menggambar dan membuat konsep desain selesai, giliran Sukini dan Suryani yang turun tangan untuk mematenkan garis-garis yang telah dipola untuk dicanting. Proses mencanting ini membutuhkan ketelatenan dan kesabaran yang tinggi. Sedikit saja kesalahan, hasil cantingan bisa meluber kemana-mana.

 

Proses tidak berhenti di situ, untuk menjadi selembar kain batik yang cantik berpola berbagai aneka hasil laut, para lansia ini membutuhkan waktu seminggu hingga kain siap dijual ke pasar. Salah satu finishing-nya adalah dengan ditembok (mengecat), merebus, hingga menjemur kain.

 

“Untuk pemasarannya kami dibantu Pahlawan Ekonomi untuk ikut pameran-pameran di Surabaya. Sekarang ini kami sudah sering ikut pameran. Mulai dari pameran di Pemkot Surabaya, pameran di mall, hingga ikut pameran Jatim Fair di Grand City beberapa waktu yang lalu,” akunya.

 

Sulastri menambahkan, sementara ini pemasaran produknya masih terbatas, ini karena kain hasil batiknya masih terlalu mahal untuk dipasarkan. Mahalnya harga kain, dan naiknya harga tinta membuat para lansia itu tidak bisa berbuat banyak. Bahkan mereka terpaksa menekan keuntungan untuk tetap menjaga kondisi pasar.

 

“Harapannya kami bisa tetap memproduksi terus secara berkala untuk memanfaatkan waktu senggang. Tapi setelah harga BBM naik, semua harga bahan-bahan jadi naik semua. Kami juga berharap memiliki pasar yang lebih dari ini,” imbuhnya. (wh)