Uang Beredar Nasional Capai Rp 14 Ribu Triliun

Uang Beredar Nasional Capai Rp 14 Ribu Triliun

Hari Tatag, Heru Budi Kusumo, Pestamen Situmorang, dan Kresnayana Yahya. foto: arya wiraraja/enciety.co

Pertumbuhan perekonomian tahun 2019 lalu mencapai 5 persen lebih. Sekitar Rp 14 ribu triliun lebih uang beredar secara nasional. Di Jawa Timur, uang beredar sekitar Rp 1.000 triliun lebih dan Surabaya sekitar Rp 600 triliun.

Hal itu diungkapkan Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (3/1/2020).

Hadir, Kasi Bimbingan Pelayanan dan Konsultasi Kanwil Direktorat Jendral pajak (DJP) Jatim I Hari Tatag, Kabid Penyuluhan Pelayanan (P2) Humas Kanwil DJP Jatim I Heru Budi Kusumo, Kabid Data dan Pengawasan Potensi Perpajakan (DP3) Kanwil DJP Jatim I Pestamen Situmorang.

Menurut Kresnayana, angka-angka pertumbuhan ekonomi tersebut juga harus diimbangi data-data penerimaan pajak. Hal ini dilakukan supaya kita bisa memahami berbagai sektor usaha yang mempengaruhi pertumbuhan perekonomian.

“Contohnya, penjualan kendaraan bermotor. Beberapa tahun lalu pertumbuhannya mencapai 12 persen lebih, namun, diprediksi di tahun ini tumbuhnya hanya sekitar 4-5 persen,” ujar pria yang mendapat julukan Bapak Statistika Indonesia itu.

Kresnayana juga mencontohkan harga tanah yang tiap tahun nilainya makin meningkat. Tanah merupakan salah satu aset pelaku usaha sangat berpengaruh pada rencana-rencana investasi yang berujung pada prospek penerimaan pajak.

Selain itu, imbuh dia, di bidang jasa yang sangat dipengaruhi perkembangan dunia digital. Peningkatannya sudah mencapai 80 persen. Contohnya, nilai pajak pertambahan nilai dari beberapa perusahaan penyedia jasa melalui dunia digital, nilainya tahun ini sudah sekitar Rp 5 triliun.

“Artinya, bidang ini masih dapat terus tumbuh ke depannya dan mejadi salah satu sumber potensi penerimaan pajak,” tegas dosen Statistika ITS itu.

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Surabaya saat ini telah mencapai Rp 600 triliun. Jika dibandingkan pada tahun 2010, angka yang tercatat hanya mencapai Rp 250 triliun. Lewat angka-angka tersebut, Kresnayana ingin menggambarkan jika perkembangan perekonomian daerah ini sangat berpengaruh terhadap potensi penerimaan pajak.

“Pada 2019 lalu pertumbuhan penerimaan pajak di Kota Surabaya naik sekitar 7,2 persen. Sedangkan untuk Jawa Timur angkanya mencapai 6 persen,” terangnya.

Kresnayanan juga mengungkapkan tiga hal bakal mendorong pertumbuhan ekonomian Indonesia tahun 2020. Pertama, sekitar 4 juta orang akan lahir di tahun ini. Kedua, minat dan niat negara untuk terus tumbuh dan berkembang. Ketiga, beberapa aspek dan pola bisnis baru yang saat ini telah tumbuh dan berkembang. (wh)