Twitter Bisa Tebak Kondisi Ibu Baru Melahirkan

Twitter Bisa Tebak Kondisi Ibu Baru Melahirkan

 

Seperti halnya jejaring sosial lainnya, Twitter juga digunakan untuk menumpahkan perasaan dan segala uneg-uneg yang dimiliki seseorang, entah itu ekspresi kebahagiaan, kesedihan hingga frustrasi. Tak heran, sejumlah peneliti juga mengaku dapat memprediksi baby blues dari jejaring ini.

Tim peneliti dari perusahaan IT terkemuka, Microsoft mengatakan mereka dapat mengidentifikasi perubahan dalam penggunaan Twitter yang menunjukkan bahwa si pemilik akun, terutama wanita, berisiko mengalami perubahan mood yang meresahkan setelah bayinya lahir atau post-natal depression dan biasa disebut dengan ‘baby blues‘.

Dr Eric Hovitz, kepala lab Microsoft Research, memulai proyeknya ini dengan mengamati sejumlah tweet, terutama yang berkaitan dengan pengumuman kelahiran.

Setelah menemukan beberapa ratus akun wanita yang baru saja melahirkan alias ibu baru, Dr Hovitz mulai menganalisis tweet-tweet mereka sejak tiga bulan sebelumnya dan setelah bayinya lahir ke dunia. Yang ia amati utamanya adalah perubahan jumlah waktu yang dihabiskan para wanita tersebut di Twitter, orang-orang yang berinteraksi dengan mereka dan bahasa yang digunakan.

Misalnya, Dr Hovitz menemukan makin banyaknya penggunaan kata ‘saya’ menunjukkan bahwa orang yang bersangkutan menjadi lebih mawas diri serta cenderung fokus pada dirinya sendiri. Masalahnya, kondisi semacam ini juga dikaitkan dengan gejala depresi.

Dr Hovitz menciptakan sebuah software yang dapat menganalisis tweet para calon ibu sebelum melahirkan agar dapat diprediksi risiko post-natal depression atau depresi pasca melahirkannya, dengan akurasi mencapai lebih dari 70 persen jika tweet seorang wanita benar-benar memperlihatkan gejala depresi yang akan dialaminya setelah si bayi lahir.

Dan jika si ibu baru terus nge-tweet dalam dua minggu pertama pasca persalinan maka tingkat akurasi software tersebut akan makin meningkat hingga mencapai 80 persen. (dtk/bh)