Turun, Porsi Pengeluaran untuk Makan Masyarakat Surabaya

Turun, Porsi Pengeluaran untuk Makan Masyarakat Surabaya

Drh. Heri Setiawan, Public Relation Manager PT Wonokoyo Jaya Corporindo dan Pengurus MPG (Masyarakat Peduli Gizi), Drh. Priastoetie, ketua MPG(masyarakat peduli gizi) Jatim dan Kresnayana Yahya, Chairperson Enciety Business Consult dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (15/9/2017).

Kurun waktu 10 tahun terakhir, porsi pengeluaran masyarakat Kota Surabaya yang diperuntukkan untuk kebutuhan makan terus menurun hingga 28 persen. Sedangkan untuk kebutuhan non-makanan jumlahnya mencapai 78 persen dari porsi pengeluaran. Jika dibandingkan dengan kondisi 10 tahun lalu, angka pengeluaran masyarakat untuk kebutuhan makanan sekitar 45-50 persen.

“Angka tersebut menjadi pertanda jika saat ini gaya hidup masyarakat telah berubah. Dari total 78 persen pengeluaran non-makanan yang dihabiskan oleh masyarakat Surabaya, yang paling tinggi pengeluaran untuk telekomunikasi,” kata Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya bertajuk “Tren Konsumsi Daging dan Telur Ayam serta Produk Olahan yang Berkembang Saat ini”, Jumat (15/9/2017).

Acara tersebut menghadirkan narasumber Drh. Heri Setiawan, Public Relation Manager PT Wonokoyo Jaya Corporindo dan Pengurus MPG (Masyarakat Peduli Gizi),  Drh. Priastoetie, dan ketua Masyarakat Peduli Gizi (MPG) Jatim.

Ia lalu membeberkan, data juga menyebutkan pengeluaran untuk entertainment seperti traveling dan lain sebagainya itu juga sangat tinggi. Begitu juga dengan biaya non-makanan berupa pengeluaran investasi, di Surabaya angkanya juga sangat tinggi

Menurut Kresnayana, asupan zat protein yang dikonsumsi masyarakat kini mencapai 87 gram per kapita per hari. “Dengan kata lain, sebagai zat yang sangat dibutuhkan oleh tubuh, protein sebenarnya telah dikonsumsi oleh sebagian besar masyarakat secara teratur,” terang pakar statistik ITS Surabaya itu .

Namun, imbuh dia, protein sebagai zat yang ada pada daging, ayam dan telur itu, saat ini masih ada masyarakat yang belum mengonsumsinya secara teratur. Contohnya telur, sebagai penghasil zat protein yang paling murah, sampai kini masih ada sebagian orang yang makan telur tiga hari sekali. Padahal, jika dibandingkan dengan orang Malaysia yang dapat makan telur sehari lebih dari satu kali.

“Konsumsi zat protein ini sangat penting bagi tubuh. Selain dapat membuat antibodi untuk sistem kekebalan tubuh, zat protein itu juga sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan anak-anak dan ibu hamil. Terlebih saat ini pemerintah memiliki berbagai program terkait. Di antaranya adalah 1.000 hari bagi ibu hamil,” tegas dia.

Menurut Kresnayana, untuk mengangkat nilai konsumsi masyarakat pada zat protein, ada beberapa cara yang dapat dilakukan. Diantaranya menciptakan produk-produk inovatif berbahan dasar protein.

“Contohnya, jika masyarakat ingin makan ayam, kita tidak perlu lagi menyediakan menu makanan yang itu-itu saja. Bisa saja kita menciptakan produk olahan ayam yang kreatif dan variatif, di antaranya menu nugget ayam yang begitu disukai banyak kalangan,” terangnya. (wh)