Tur Virtual Surabaya Heritage Track dalam Satu Sentuhan Jari

Tur Virtual Surabaya Heritage Track dalam Satu Sentuhan Jari

foto: humas house of sampoerna

Merespons himbauan pemerintah untuk stay at home di tengah masa pandemic COVID-19, House of Sampoerna meluncurkan alternatif wisata yang dapat dinikmati masyarakat tanpa harus meninggalkan rumah berupa Tur Virtual Surabaya Heritage Track (SHT).

Sejalan pula dengan anjuran International Council of Museums (ICOM) untuk dapat selalu menjangkau dan terhubung dengan publik meski dari jarak jauh, tur virtual ini akan mempertemukan para Trackers (sebutan peserta SHT) dengan pemandu tur secara daring.

“Tetap mengusung konsep Museum Luar Ruang Tur Virtual SHT akan menyambangi bangunan-bangunan cagar budaya serta kawasan bersejarah lainnya di Surabaya,” ujar Rani Anggraini, Manager House Of Sampoerna, Jumat (8/5/2020).

Untuk menunjukkan semangat pergerakan Arek-Arek Suroboyo yang multikulural, serta identitas Surabaya sebagai kota, perdagangan dan pelabuhan melalui fasilitas street view pada google map dari layar gawai.

Melalui program Tur Virtual SHT yang mulai dilakukan pada 1 Mei 2020, masyarakat akan tetap dapat menikmati wisata sejarah di Surabaya secara aman dengan jadwal pertama adalah Surabaya Kota Pahlawan pada hari Jumat, pukul 10.00 – 11.30 WIB dan 13.00 – 14.30 WIB. Jadwal kedua adalah Kampung dari Seberang Sabtu, pukul 10.00 – 11:30 WIB dan 13.00 – 14.30 WIB.

Surabaya Kota Pahlawan, tema ini, sambung Rani, menceritakan tentang kedatangan Sekutu di Surabaya pada 25 Oktober 1945 menjadi jalan kembali masuknya tentara NICA untuk kembali menduduki Indonesia.

Rakyat Surabaya yang menolak dengan tegas upaya tersebut memberikan perlawanan kuat hingga menewaskan pimpinan tertinggi Sekutu, Jenderal AWS. Mallaby, pada pertempuran 3 hari di bulan Oktober 1945. Meletusnya pertempuran 10 November menjadi pembuktian keinginan Arek-Arek Suroboyo untuk merdeka.

Sedangkan untuk tema yang kedua, kampung dari Seberang, kata Rani, pada tahun 1843, Belanda memberlakukan wijkenstelsel atau pembagian wilayah pemukiman di Surabaya berdasarkan ras atau etnis penduduknya.

Kalimas sendiri digunakan sebagai pembatasnya, dimana sisi Barat diperuntukkan bagi pemukiman orang Eropa, sedangkan sisi Timur dari Kalimas dikhususkan bagi masyarakat Timur Asing (Vremde Oosterlingen) yang terdiri dari pemukiman masyarakat etnis Tionghoa dan Arab.

Adanya kebijakan ini berdampak pada segregasi kawasan hunian bagi orang Eropa, Tionghoa dan Arab yang masih tampak jelas dari arsitektur bangunan yang hingga sekarang masih ada. Pemisahan wilayah tersebut juga berdampak pada budaya dan tradisi masyarakat yang terus berkembang. (wh)