Tunjang Aksesibilitas Teluk Lamong, Pelindo III Bangun Flyover

Tunjang Aksesibilitas Teluk Lamong, Pelindo III Bangun Flyover
Foto Simpang Susun

Pembangunan Terminal Teluk Lamong yang merupakan pelabuhan perluasan dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, pada tahap I pembangunan seluas 38 hektar telah beroperasi kegiatan bongkar muat peti kemas domestik dan internasional. Pengembangan berikutnya hingga tahap ultimate hingga mencapai 386 hektar.

“Dengan beroperasinya Terminal Teluk Lamong menjadikan pelabuhan tersebut gerbang perdagangan baik ekspor maupun impor serta antarpulau, yang berdampak pada meningkatnya penggunaan kawasan industri pergudangan Margomulyo-Osowilangun serta terjadi perkembangan wilayah pendukung sekitarnya seperti terbentuk sentra perdagangan”, kata Kahumas Pelindo III Edi Priyanto.

“Terminal Teluk Lamong sendiri memiliki green port pertama di Indonesia dilengkapi dengan peralatan modern semi-otomatis sehingga menjanjikan keamanan, kecepatan serta ketepatan waktu bagi pengguna jasa. Kapal-kapal internasional bermuatan besar dapat sandar di Terminal Teluk Lamong karena kedalaman dermaganya mencapai -14 meter LWS dan kedpan bisa diperdalam lagi hingga -16 meterLWS. Juga telah dilakukan revitalisasi Alur Pelayaran Barat Surabaya, dengan lebar alur menjadi 150 meter, kedalaman menjadi -13 mLWS pada tahap pertama dan secara bertahap akan diperlebar hingga 200 meter dan dalam -16 mLWS, sehingga kapal tujuan Indonesia tidak perlu lagi singgah ke Singapura”, terang Edi.

Pembangunan Terminal Teluk Lamong telah sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah sesuai Perda No. 5 tahun 2012 tentang RTRW Provinsi Jawa Timur Tahun 2011-2031 bahwa kawasan sekitar Terminal Teluk Lamong diperuntukkan untuk kawasan industri dan Perda No. 12 tahun 2014 tentang RTRW Kota Surabaya Tahun 2014-2034  bahwa kawasan Terminal teluk Lamong diperuntukkan untuk mix use pendukung pengembangan pelabuhan.

Konektivitas moda transportasi dari dan ke Terminal Teluk Lamong dirancang dengan multimoda transportasi. Pertama adalah penggunaan jalan eksisting Tambak Osowilangun, kemudian jalan flyovermenghubungkan tol Surabaya-Gresik, menggunakan jalur kereta api, dan monorel peti kemas.

“Sedangkan konektivitas integrasi aksesibilitas darat flyover – Tol Surabaya Gresik – Jalan Luar Lingkar Barat (JLLB) perlu didukung dengan pembangunan infrastruktur antara lain, pembangunan flyover Terminal Teluk Lamong – Tol Surabaya Gresik,” tambah Edi. Infrastruktur pendukung lainnya yaitu pembangunan Jalan Lingkar Luar Barat (JLLB) Surabaya, Pelebaran Jalan Kalianak, Pelebaran Jalan Margomulyo dan Pelebaran jalan akses dari dan menuju pintu gerbang tol Romokalisari.

Proses perizinan terkait pembangunan simpang susun/ fly over sudah berlangsung sejak 29 Maret 2012, kemudian persetujuan prinsip pembangunan simpang susun dan jalan penghubung dari dan menuju Terminal Teluk Lamong dengan Tol Surabaya Gresik dari Menteri Pekerjaan Umum pada tanggal 12 Desember 2013.

Selanjutnya Persetujuan Andalalin Pembangunan fly over di jalan nasional oleh Kementrian Perhubungan tanggal 23 Februari 2015. Kemudian Rekomendasi rencana pembangunan simpang susun (flyover) di Jl. Kalianak Surabaya menuju Terminal Teluk Lamong oleh Walikota Surabaya Tri Rismaharini pada tanggal 9 Juli 2015. Sebagai tindak lanjutnya dilakukan pembahasan rencana pembangunan akses Terminal Teluk Lamong ke Jalan Tol Surabaya – Gresik.

“Nantinya flyover dari Terminal Teluk Lamong akan menuju ke interchange Jalan Lingkar Luar Barat (JLLB) dan menuju tol Surabaya – Gresik total sepanjang 4,4 kilometer. Pelindo III akan mengerjakan jalan flyoversepanjang 2,4 kilometer” jelas Edi Priyanto lagi. Jalan tersebut terdiri dari dua jalur, masing-masing jalur terdiri dari dua lajur yang digunakan untuk kendaraan roda empat/lebih dengan lebar masing-masing 3,5meter, dan satu jalur digunakan untuk sepeda motor dengan lebar 2 meter. Sehingga jalan yang akan dibangun Pelindo III panjangnya mencapai 2,4 km dengan lebar jalan mencapai 20 meter.

Edi menjelaskan bahwa saat ini sedang proses penyelesaian perizinan Amdal di BLH provinsi, sedangkan untuk basic design dan izin prinsip dari Kementrian Pekerjaan Umum serta Ijin Andalalin dari Kementrian Perhubungan telah didapatkan. “Diharapkan setelah dikeluarkan izin Amdal dari BLH Provinsi maka dapat dilanjutkan dengan proses pelelangan pekerjaan flyover dengan sistem Design dan Build. Dari design yang telah disiapkan kontraktor selanjutnya diajukan persetujuan terlebih dahulu ke Dirjen Bina Marga sebelum dimulai pembangunannya. Setelah pembangunan flyover selesai, maka seluruh aset bangunan jalan flyoverdiserahkan dari Pelindo III kepada Kementrian Pekerjaan Umum dengan pengelola Direktorat Jenderal Bina Marga”, pungkasnya. (wh)