Tukang Jagal Jatim Tuntut Revisi Perda Pengendalian Ternak

Tukang Jagal Jatim Tuntut Revisi Perda Pengendalian Ternak
Puluhan pejagal dari PPSDS Jawa Timur, saat ngeluruk kantor DPRD Jawa Timur dan Kantor Gubernur Jawa Timur memberikan hadiah berupa janin sapi yang telah diawetkan.

Paguyuban Pedagang Sapi dan Daging Segar (PPSDS) Jawa Timur, Kamis (16/10/2014) siang, ngeluruk Kantor DPRD dan Kantor Gubernur Jatim. Mereka memberi hadiah bangkai anakan sapi kepada Gubernur dan anggota DPRD Jawa Timur sebagai simbol tuntutannya untuk merevisi Perda Jatim Nomor 3 Tahun 2012 tentang Pengendalian Ternak Sapi dan Kerbau Produktif.

Ketua PPSDS Jatim Muthowif mengaku bangkai janin sapi yang diberikan ke Gubernur dan anggota dewan itu adalah akibat dari banyaknya kasus pemotongan sapi betina produktif di sejumlah Rumah Pemotongan Hewan (RPH) di Jawa Timur.

“Kami menuntut Gubernur juga segera melakukan revisi Surat Edaran Tahun 2010 tentang pelarangan sapi dan daging impor masuk Jawa Timur. Harus diubah bahwa sapi bakalan potong dan sapi indukan bunting harus didatangkan ke Jawa Timur segera,” tegasnya.

Dari catatan timnya, meski SE larangan daging impor diberlakukan tapi sejak tahun 2010 daging impor yang masuk Jawa Timur mencapai 80 kontainer atau mencapai 1.600 ton. Sedangkan sapi potong yang masuk Jawa Timur mencapai 35 ribu ekor dari total kebutuhan sebanyak 32 ribu ekor.

“Padahal populasi sapi potong di Jawa Timur mencapai 4.745.453  ekor sapi. Dalih gubenur melindungi para peternak, tapi Soekarwo malah membuat SE Nomor 524/8838/023/2010 tapi kenyataannya melakukan impor besar-besaran,” ujarnya.

Selama 2010 hingga 2014 Pemerintah Provinsi Jatim juga dikatakan membuat program inseminasi buatan (IB), bantuan hibah sapi, paket bantuan sapi bergulir, dan bantuan sosial. Muthowif juga menjelaskan program terbut adalah swasembada daging sapi tahun 2014 dari Pemprov Jatim dengan target populasi sapi mencaa 5.329.647 ekor sapi.

Padahal menurut Muthowif, data tersebut tida relevan dengan rilis Badan Pusat Statistik Jawa Timur yang menjelaskan jumlah populasi di Jatim hanya 3.831.537 ekor sapi saja. Artinya terdapat penyusutan sapi mencapai 1,23 juta ekor atau 24,2 persen dari target.

“Jumlah sapi pada 2013 dari BPS tersebut terdiri dari sapi potong, sapi perah, dan kerbau yang ada di Jatim. Sedangkan total sapi potong hanya 3,5 juta ekor sapi. Dengan rincian 1.050 ekor sapi jantan dan 367 ekor sapi anakan, 682.500 ekor sapi siap potong,” jelasnya.

Padahal menurut Muthowif jumlah kebutuhan sapi di Jawa Timur mencapai 776 ribu ekor sapi dan ditambah 310 ribu ekor sapi untuk suplai nasional per tahun. Artinya Jawa Timur kekurangan sapi siap ptong 403.500 ekor setiap tahunnya.

“Sedangkan sapi betina kita ada 2,450 juta ekor sapi. Terdiri dari sapi tidak produktif sebanyak 245 ribu ekor, sapi betina muda 245 ribu ekor, sapi betina bunting 980 ribu ekor, dan betina belum bunting 980 ekor sapi,” bebernya.

Padahal jika target IB Pemrov Jatim mencapai 1,150 juta anakan maka Jawa Timur kekurangan sapi betina bunting sebanyak 400 ribu ekor per tahun.

“Untuk itu, Gubernur harus melakukan stabilisasi dengan mencabut kesepakatan suplai daging nasional 32 persen dan membentuk panitia khusus transparansi program Dinas Peternakan sejak tahun 2010,” pungkas dia. (wh)