Tujuh Unsur Membuat Packaging Produk

Tujuh Unsur Membuat Packaging Produk

Vincentius Surya Putra.foto:arya wiraraja/enciety.co

Pelajaran branding & packaging kembali diajarkan di pelatihan Pahlawan Ekonomi & Pejuang Muda Surabaya di Kaza City Mall, Minggu (15/9/2019). Vincentius Surya Putra, koordinator mentor Tatarupa, memberikan tips dan triknya.

Menurut dia, ada tujuh unsur harus dipenuhi membuat packaging produk. Pertama, harus efisien. kedua menjamin keamanan produk. Ketiga, memudahkan pengiriman produk. Keempat, brand produk mudah dikenali. Kelima, packaging produk harus menyertakan informasi dan izin produk. Keenam, desain packaging harus fokus pada fungsi utamanya. Ketujuh, packaging harus punya unsur sebagai media promosi, unik dan menarik.

“Untuk mendesain packaging yang wajib diperhatikan adalah jenis bahan yang digunakan. Contohnya, jika produk tersebut lembab atau basah seperti produk minuman, gunakan bahan-bahan yang anti air alias tahan terhadap air. Jika produknya kering seperti handicraft, gunakan bahan-bahan packaging yang biasa saja,” katanya.

Kata Vincent, jika salah pilih packaging, produk tidak tahan lama. Ini pada gilirannya bakal mempengaruhi kepercayaan konsumen terhadap produk kita.

Tidak hanya itu saja. Vincent juga menekankan produk yang akan di repackaging adalah makanan, bahannya harus aman jika tercampur dengan makanan atau istilah food grade.

“Contohnya, jika produknya coklat, kertas pembungkusnya harus food grade. Supaya tidak berbahaya jika dimakan. Intinya, packaging itu tidak hanya memikirkan unsur menariknya saja,” terang Vincent.

Vincent juga menjelaskan, packaging yang baik bila mudah dibawa dan mampu melindungi produk di dalamnya. Belakangan, transaksi atau penjualan produk banyak datang dari dunia digital. Otomatis, jika pesanan dari online, produk yang dijual akan dikirim sampai ke konsumen.

“Untuk itu, kita harus pikirkan unsur keamanan produk juga saat kita mendesain packaging-nya,” kupas Vincent.

Terakhir, memperhatikan unsur promosi dan keunikan packaging. Semisal packaging tas dengan desain daun pisang untuk produk buah pisang.

“Produknya hanya buah pisang. Harganya kalau di pasar tradisional sangat murah. Namun, setelah dipacking harganya bisa naik berlipat-lipat. Desainnya sangat menarik karena jika dilihat mirip daun pisang yang dilipat. Ini menggambarkan semua unsur packaging yang kita bahas. Mudah-mudahan bisa menjadi inspirasi,” tegasnya.

Perlu diketahui juga, dalam acara itu juga turut hadir  150 orang Bu Nyai dan para pengurus Pondok Pesantren Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) NU Jawa Timur. (wh)