Trump Terancam, Desakan Penghitungan Ulang Diteruskan ke Mahkamah

Trump Terancam, Desakan Penghitungan Ulang Diteruskan ke Mahkamah

Mantan calon presiden dari Partai Hijau Jill Stein, bersumpah akan meneruskan perjuangannya untuk meminta penghitungan ulang hasil suara Pemilu di negara bagian Pennsylvania ke mahkamah federal. Ini setelah hakim pengadilan memerintahkan tim kampanye dia menyediakan jaminan USD 1 juta (untuk penghitungan ulang suara hasil Pemilu). “Kampanye Stein akan terus berjuang bagi penghitungan suara ulang di seluruh negara bagian Pennsylvania,” kata Jonathan Abady, penasihat Stein untuk penghitungan ulang hasil suara Pemilu seperti dikutip Reuters.

Karena sistem pengadilan negara bagian dianggap jelas sangat tidak layak menangani masalah penghitungan ulang suara Pemilu, pihak Stein menyatakan mahkamah federal (pusat) harus melakukan intervensi.

Tim kampanye Stein menyatakan akan mengajukan panggilan darurat dalam mengupayakan penghitungan ulang di seluruh negara bagian Pennsylvania berdasarkan alasan-alasan konstitusional.

Permintaan jaminan  USD 1 juta disampaikan Mahkamah Pennsylvania sehari setelah Presiden terpilih Donald Trump meminta jaminan USD 10 juta untuk penghitungan ulangnya hasil Pemilu.

Stein juga meminta penghitungan ulang hasil Pemilu di  Michigan dan Wisconsin. Di ketiga negara bagian itu Trump hanya unggul tipis dari pesaingnya Hillary Clinton. Trump menyebut upaya ini sebagai sampah, sedangkan pihak Clinton menyatakan akan ambil bagian dalam penghitungan suara ulang.

Trump melewati batas minimal 270 suara elektoral untuk bisa disebut pemenang Pilpres, namun jika penghitungan suara ulang di tiga negara bagian itu diluluskan pengadilan dan ternyata hasilnya menunjukkan Hillary yang menang, maka Hillary bakal menjadi presiden AS.

Pada jumlah suara pemilih Pemilu (bukan suara elektoral), Hillary telah melewati Trump dengan selisih 2,5 juta suara. (ant)