Triwulan II, Pertumbuhan Ekonomi Jatim Capai 5,94 Persen

Triwulan II, Pertumbuhan Ekonomi Jatim Capai 5,94 Persen

Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mengumumkan pertumbuhan ekonomi Jatim pada triwulan II mencapai 5,94 persen dibading periode yang sama tahun lalu. Sedangkan pertumbuhan ekonomi Jatim pada kuartal kedua dibanding kuartal pertama sebesar 2,75 persen.

Kepala BPS Jatim M.Sairi Hasbullah kepada wartawan, Selasa (5/8/2014), menyebutkan tiga komponen penyumbang pertumbuhan ekonomi Jatim. Adalah perdagangan, hotel, dan restoran menyumbang tertinggi dengan pertumbuhan 2,43 persen secara year on year (yoy).

“Ada tiga komponen penyumbang perekonomian Jawa Timur secara struktur ekonomi yang hampir sepertiganya adalah perdagangan hotel, dan restoran atau sekitar 31,10 persen. Sedangkan laju dan sumber pertumbuhan PDRB Jatim ketiganya berkisar antara 0,27 persen,” Katanya.

Tetapi perkembangan ketiga komponen ini tidak diimbangi dengan pertumbuhan sektor pertanian. Dimana laju pertumbuhan sektor pertanian menurun sekitar 12,36 persen pada kuartal kedua dibanding kuartal pertama.

Demikian juga secara struktur PDRB sektor pertanian pada kuartal kedua tahun ini dibanding tahun lalu terus menurun. Kuartal kedua tahun ini tercatat 14,93 sedangkan tahun lalu sebesar 15,36. “Kuartal pertama merupakan masa panen, sedangkan kuartal kedua memasuki masa tanam. Hal ini sudha menjadi siklus tahunan, terutama untuk tanaman padi,” lanjutnya.

Asisten II Bidang Perekonomian Provinsi Jawa Timur, Hadi Prasetyo mengakui ada penurunan produksi. Itu disebabkan karena anomali cuaca. “Sebab mulai tahun 2012, anomali cuaca yang sulit diprediksi,” jelasnya.

Hadi Prasetya menambahkan, penurunan produksi ini disebabkan adanya badai El Nino lemah yang tidak kering dan tidak basah. Hingga semester pertama tahun ini, Hadi Prasetyo mengungkapkan capaian produktivitas padi tercapai atau setara dengan 12 juta ton.

Penurunan sektor pertanian menurutnya tidak linedar dengan meningkatnya sektor perdangangan, hotel dan restoran. “Demikian  juga dengan transisi SDM tidak ada perubahan. Kalau kita melihat nilai tukar petani hingga semester pertama tahun ini meningkat. Artinya kesejahteraan petani masih baik dan tidak ada transisi SDM dari petani ke sektor industri,” urainya. (wh)