Transaksi Baku Akik di Bukalapak Capai Rp 8 M

bukalapak
Booming batu akik memang merambah kemana-mana. Tak hanya dalam transaksi offline, berkah juga didapat para pengelola platform online. Salah satunya situs bukalapak.com. dalam sebulan, transkasi di situs yang mempertemukan penjual dan pembeli secara online itu tercata Rp 8 miliar per bulan. Dalam sehari tercatat sebesat Rp 300 juta. “Omzet khusus dari penjualan batu akik atau batu mulai rata-rata per hari sekitar Rp 300 juta atau sekitar Rp 8 miliar per bulan sejak awal tahun 2015 ini, saat masa booming batu mulia melanda,” kata Achmad Zaky, CEO dan founder bukalapak.com.

Ditemui disela kopi darat (kopdar) Komunitas Bukapalak di kampus Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Minggu (12/4/), Zaki mengungkapkan, dari transaksi batu mulia itu, pihaknya mencatat kenaikan transaksi hingga dua kali lipat dibandingan barang lainnya. Sebelumnya transaksi terbanyak adalah jenis barang gadget seperti ponsel, tablet, dan laptop.
“Kontribusi gadget bisa mencapai 30 persen. Sekarang ganti batu mulia,” lanjut Zaki yang merintis bukalapak sejak 2010 lalu.

Bukalapak.com merupakan salah satu situs perusahaan layanan jual – beli daring (online) dengan model bisnis consumer to consumer mulai membidik kota Surabaya untuk memperluas jaringannya pasar digital. Zaky mengakui, trend belanja secara online sudah alami peningkatan nilai transaksi semua jenis barang jika dibandingkan tahun sebelumnya. Hingga bulan Maret saja, nilai transaksi belanja dionline mencapai kenaikan 30 persen. Sementara untuk nilai traksaksinya per hari mencapai Rp 2 sampai Rp 3 miliar.

Head of Communatication Bukalapak, Yusi H Obon, menambahkan, kehadiran bukalapak.com untuk memperdayakan dan mensejehterakan UKM Indonesia sebagai upaya meningkatkan produkvitas UKM untuk bersaiang dengan produk luar negeri. Lewat penjualan sistem online itu diharapkan produk UKM di Indonesia akan mampu bersaing nantinya. “Kehadiran kami untuk produk UKMvadalah bagian dari misi dan visi kami dalam memasarkan produk. Apalagi jelang kehadiran MEA ini produk UKM sudah selayaknya untuk bersaing dengan produk impor,” kata Yusi. (ram)