TPID Jatim : Pasokan Energi dan Pangan Aman Hingga Akhir Tahun

TPID Jatim : Pasokan Energi dan Pangan Aman Hingga Akhir Tahun
Wakil Ketua TPID Jatim sekaligus Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Wilayah IV, Soekowardojo.

Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Jatim pastikan pasokan energi dan bahan pangan strategis terus terjaga dalam mencukupi permintaan masyarakat hingga akhir 2014.

Dalam menghadapi berbagai isu terkait energi dan pangan, TPID Jatim telah siapkan berbagai strategi guna menjaga agar harga tetap terkendali dan daya beli masyarakat tetap terjaga.

Wakil Ketua TPID Jatim  sekaligus Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Wilayah IV, Soekowardojo, mengatakan strategi tersebut mencakup upaya pemenuhan pasokan yang didukung oleh Pertamina, Dinas Pertanian, Bulog, dan Disperindag.

“Disertai pegawasan dengan dukungan dari Polda Jatim, serta program komunikasi yang intensif kepada masyarakat. Sehingga, ekspetasi inflasi dapat terus terjaga,” terang Soekowardojo di Surabaya, Kamis (16/10/2014).

Dikatakannya, untuk menghadapi tekanan inflasi sampai dengan akhir tahun 2014, TPID Jatim melalui disperidag akan kembali gencar menggalakkan Operasi Pasar (OP), dimana dalam pelaksanaannya bekerjasama dengan Bulog.

Melalui optimalisasi fungsi Bulogmart di Jatim, Asisten Perekonomian dan Pembangunan juga meminta koordinasi yang intensif antara Bulog, Dinas Pertanian dan Dinas Peternakan Jatim untuk memastikan kebutuhan pasokan tercukupi.

“Inflasi Jatim pada September 2014 relatif terkendali. Tercatat, inflasi Jatim sebesar 0,33 persen (mtm) atau sekitar 4,13 persen (yoy) lebih rendah dibandingkan skala nasional yang mencapai 4,53 persen. Ini merupakan inflasi terendah kedua dikawasan Jawa,” terangnya.

Menurutnya, secara spasial dari delapan kota yang masuk dalam penghitungan inflasi nasional, ada tiga kota yang mencatat inflasi tertinggi dibanding Jatim, yaitu kota Malang sebesar 4,57 persen, Surabaya 4,38 persen dan Sumenep 4,15 persen.

“Sementara lima kota lainnya mencatat inflasi yang lebih rendah, di antaranya yakni kota Madiun 3,76 persen, Probolinggo 3,60 persen, Kediri 3,58 persen, Jember 3,22 persen dan Banyuwangi sebesar 2,45 persen,” ungkapnya. (wh)