Tolong Nelayan, Dapat Untung Besar dari Olah Hasil Laut

Tolong Nelayan, Dapat Untung Besar dari Olah Hasil Laut
Nurul Hidayati ciptakan produk unggulan hasil laut. foto: sandhi nurhartanto/enciety.co

Berbagai usaha terus coba dikembangkan Nurul Hidayati (42), warga Greges Kalianak Surabaya ini. Peraih juara II Home Industry Pahlawan Ekonomi 2011 dan Best of The Best Home Industry Pahlawan Ekonomi 2013 ini, terus berinovasi membuat berbagai produk unggulan. Mulai dari krupuk teripang atau nama latinnya sand sea cucumber/holothuria scabra, krupuk payus hingga yang terbaru roti kering bagelen butter.

“Saya bersama suami (Imam Sholeh, red) terus mencoba hal yang baru agar dapat memenuhi produksi pasar makanan di Surabaya dan kota lainnya. Hingga kini, kami mengisi produk di Carrefour dan Giant,” ucap Nurul Hidayati kepada enciety.co.

Tidak salah bila ibu dari dua anak, Reza Pahlevi dan Jehan Abi ini, getol membikin beberapa produk unggulan. Menurut dia, hal tersebut tidak terlepas dari disekolahkan dirinya bersama keenam rekan lainnya oleh Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini yang waktu itu masih menjabat sebagai kepala Bappeko di Sampoerna Foundation Pasuruan, tahun 2010 lalu.

“Itulah cikal bakal dari Pahlawan Ekonomi. Jadi sejak awal pembentukan Pahlawan Ekonimi, saya ikut terus. Namun pertama kali ikut malah gak menang dan itu yang bikin penasaran. Setiap minggu akhirnya saya pasti datang untuk ikut pelatihan,” tuturnya.

Teripang-Fish-QDari hasil berbagai produk pengolahan hasil laut yang dibuatnya, Nurul mendapatkan omzet Rp 12 juta per minggunya. Dipotong untuk mendapatkan teripang segar dari 18 nelayan yang dibinanya, dan 6 pegawai untuk pengolahan, Nurul mengaku mendapatkan laba bersih Rp 2 juta dari supplier-nya, Safidah dari Surabaya.

Per minggunya, Nurul mengolah teripang untuk memenuhi pasar setiap minggunya mencapai 60-80 kg kering yang didapat dari pengolahan 7-8 kuintal teripang per hari untuk dikeringkan. Pengeringannya pun masih menggunakan sistem konvensional, yaitu dengan sinar matahari.

Dulunya, teripang oleh nelayan Greges masih dipandang sebelah mata. Dari tahun 2012 lalu, harga teripang hanya berkisar Rp 800 per kilo. Dan kini harga teripang karena banyak diolah menjadi naik Rp 4 ribu per kilonya.

“Tapi itu berdasarkan kriteria standar. Contoh teripang dari laut gak boleh rusak, juga nelayan harus bisa jaga kelestarian ekosistem alam. Mereka gak boleh pake garit atau pukat yang biasa dipakai nelayan Kenjeran. Kami mengharuskan pakai sistem manual atau lewat gerayah atau digogo,” tuturnya.

Dari melakoni bisnis ini, pasangan ini bisa mengkuliahkan anak mereka di Universitas Hang Tuah Jurusan Teknik PermesinanKapal, satunya masih sekolah di SMP.

Ia menceritakan, sebelum menjadi pengusaha seperti sekarang ini, tahun 1997-2011 lalu, mereka membikin usaha sepatu dengan merek Americana yang biasanya dijual di Pasar Turi. Juga sepatu bikinannya dilempar ke Semarang dan Gorontalo.

Sayangnya, usaha pembuatan sepatu tersebut tutup akibat biaya produksi dan jualan yang tidak seimbang. Waktu itu, mereka mampu mempekerjakan 10 tukang jahit, 4 tukang sol, dan 2 tukang ngemal atau gambar. Mereka menutup akibat krismon di Indonesia yang membuat perekonomian kacau.

“Belum lagi pelanggan Indonesia Timur yang terkena kerusuhan akibat krismon. Akhirnya banyak giro blong gak terbayar,” ucapnya.

Mereka tidak menyerah. Dari usaha bikin sepatu, mereka beralih membikin roti donat tepak atau boks isi 12 pada tahun 2002 -2010. Donat ini mereka jual ke pabrik dan warung yang ada di sekitar rumahnya. Seharinya, mereka mampu produksi 100 tepak atau boks.

“Akhirnya juga berhenti karena pelanggan berkurang. Mungkin mereka bosen. Juga ada dagangan diambil sama pelanggan dan mereka gak mau bayar,” ucap dia. (wh)