Tjioe Giok Hong, Jual Kue Keranjang Turun Temurun

Tjioe Giok Hong, Jual Kue Keranjang Turun Temurun

Sebulan sebelum perayaan Tahun Baru Imlek atau Sin Cia, suasana di rumah Tjioe Giok Hong di Jalan Karangsem XV/61, Surabaya sibuk bukan main. Rumah itu untuk sementara disulap menjadi pabrik nian gao atau kue keranjang.

Sejak 1987, Giok Hong mulai coba-coba bikin kue keranjang. Kebetulan waktu itu belum banyak orang yang bikin kue khas Imlek itu dalam jumlah besar untuk dipasarkan ke mana-mana. Ternyata, usaha yang awalnya hanya sekadar coba-coba disukai teman-teman.

Kue keranjang atau nian gao dalam bahasa Mandarin sejatinya jajanan yang sangat sederhana. Bahannya cukup tepung beras ketan dan gula pasir. Rasanya sangat manis dan legit.

Orang Tionghoa biasa menikmati kue keranjang ini bersama keluarga untuk memeriahkan tahun baru Imlek. Karena hanya dibuat setahun sekali, kue tradisional ini sedapat mungkin tersedia di rumah-rumah keluarga Tionghoa. “Namanya juga sudah tradisi,” kata Giok Hong.

Namun, karena sudah menjadi tradisi dari generasi ke generasi selama ribuan tahun, menurut Giok Hong, tidak semua orang bisa membuat kue keranjang dengan baik. Kalau dipaksakan sih bisa saja, tapi hasilnya tak akan optimal.

Bahkan, Giok Hong yang sudah menekuni bisnis kue keranjang selama 24 tahun pun beberapa kali mengalami kegagalan. Adonanan sudah betul, prosedurnya oke, eh ternyata kuenya tidak jadi. “Beberapa hari lalu kuenya nggak jadi karena tiba-tiba ada adonan yang tertukar,” katanya.

Adonan macam ini tentu saja tak mungkin menghasilkan nian gao yang diinginkan. Apalagi harus dititipkan di toko-toko atau pusat belanja tertentu. “Kita nggak sadar, tiba-tiba saja ada kendala dalam proses produksi,” kata lulusan SMA Santa Agnes Surabaya ini.

Karena itu, Giok Hong selalu menjadikan pekerjaan membuat kue keranjang sebagai bagian dari ibadah kepada Sang Pencipta. Bukankah Sin Cia dalam tradisi dan kepercayaan Tionghoa merupakan momentum yang sangat istimewa? Tak heran, Giok Hong selalu berdoa di rumahnya sebelum memulai proses membuat kue ranjang.

“Saya juga usahakan agar hati ini tetap bersih, tidak ada beban di hati. Pekerjaan apa pun kalau dilakukan dengan hati yang bersih, ditambah doa kepada Sang Pencipta, pasti berhasil,” kata ibu rumah tangga yang ramah ini.

Giok Hong juga selalu menciptakan kondisi yang nyaman bagi Sembilan pekerjanya untuk bekerja dengan gembira dan penuh semangat. Kondisi macam itulah yang membuat usaha kue ranjang di kawasan Karangasem ini bisa bertahan hingga lebih dari dua dasawarsa.(wh)