Tipe Lebaran atau Tipe Liburan?

Tipe Lebaran atau Tipe Liburan?
foto: enciety.co

Banyak hal yang bisa diinsyafi di bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri atau lebaran. Momen tahunan ini selalu diekspresikan beragam oleh banyak orang.

Ippho Santosa, salah satu dari segelintir motivator yang telah berseminar di belasan negara dan penjualan bukunya di atas satu juta eksemplar, menyodorkan pertanyaan menggelitik tentang tipe Lebaran, tipe liburan, tipe transferan, atau tipe transparan? Dalam berbakti, Anda termasuk tipe yang mana? Berikut Ippho Santosa menuliskannya dalam akun twitter-nya:

–  Tipe Lebaran. Datang satu kali atau dua kali dalam setahun, bertemu orangtuanya. Menurutnya, itu sudah cukup untuk berbakti. Toh sering mendoakan dan sering menelepon.

–  Tipe liburan. Datang sesekali bertemu orangtuanya. Ketika datang, orangtua diajaknya jalan-jalan dan senang-senang. Seperti berlibur. Setelah itu, yah selesai. Begitulah caranya berbakti.

–  Tipe transferan. Bertemu orangtuanya jarang-jarang, yang penting transfer. Cukup. Toh apa-apa bisa dibeli dengan uang. Yah, transfer saja uangnya. Demikianlah pola pikirnya.

–  Tipe transparan. Nah, dia berusaha selalu menemani orangtuanya. Berbakti dengan penafkahan, perhatian, waktu, doa, dan lain-lain. Repotnya, karena terlalu sering bertemu, dia dan jasanya malah tidak dianggap oleh orangtuanya. Tidak kelihatan alias transparan. Sementara anak-anak yang lain, karena jarang-jarang bertemu, justru ditunggu-ditunggu, lebih dianggap, dan lebih diharapkan.

Bagi kita yang sering abai dan lalai sama orangtua, ingatlah:

–  Orangtua, merekalah orang pertama yang mencurahkan cinta kepada Anda! Ya, cinta pertama Anda!

–  Merekalah orang pertama yang memperkenalkan dan menghadirkan cinta dalam hidup Anda!

–  Merekalah satu-satunya orang yang benar-benar mencintai Anda apa adanya tanpa berharap balas!

–  Merekalah satu-satunya orang yang cintanya kepada Anda bersemi sepanjang masa, tiada bandingnya!

–  Merekalah satu-satunya orang yang cintanya tidak akan sanggup Anda balas dengan setara!

Ketika saya bertemu dan dinner bareng Donald Trump –salah satu orang terkaya di dunia dan salah satu kandidat presiden Amerika– ternyata ia mengakui bahwa dua rahasia suksesnya yang paliiiiing utama adalah keluarga dan kualitas. Di hadapan tamu-tamu dari berbagai negara, sambil menunjukkan buku 7 Keajaiban Rezeki, ia berpesan dengan sungguh-sungguh, “Kalau keluarga sudah happy, maka semua bakal happy ending. Demikian pula sebaliknya.”

Ia bukan ustadz. Bukan pula pendeta. Siapapun tahu, ia adalah pengusaha Barat yang sering dianggap kapitalis dan hedonis. Hidupnya sarat kontroversi. Namun menariknya, orang yang seperti itu pun mengakui peranan keluarga. Nah, mestinya kita lebih mengakui peranan keluarga. Tanpa keluarga, tanpa orangtua, kemungkinan besar kita tidak akan bisa mencapai apa-apa seperti sekarang. Ngomong-ngomong, dalam berbakti, Anda termasuk tipe yang mana? (wh)