Tingkatkan Kualitas Produk, UKM PE Dibekali Food Photography

Tingkatkan Kualitas Produk, UKM PE Dibekali Food Photography
Tjie Hwa memberi pembekalan food photography kepada UKM Pahlawan Ekonomi di Spazio Surabaya, Selasa (22/9/2015). Arya wiraraja/enciety.co

Guna meningkapkan brand image, para pelaku usaha kecil menengah (UKM) Pahlawan Ekonomi (PE) Surabaya dibekali pelatihan food photography. Ini dilakukan agar tampilan produk makanan yang disajikan bisa lebih menarik dan mengundang selera pembeli.

Kegiatan yang menghadirkan Tjie Hwa, fotografer terkemuka di Indonesia ini,  dihelat di Spazio, Surabaya, Selasa (22/9/2015). Selain pelaku UKM, acara ini juga dihadiri sejumlah fotografer di Kota Pahlawan.

Tjie Hwa membuka paparan dengan isi buku Food Photography Made Easy yang dikarang empat orang perempuan. Buku tersebut sampai saat ini telah menjadi rujukan para pelaku usaha kuliner.

foto-produk-ukmMenurut dia, untuk membuat karya food photography yang harus diperhatikan adalah kamera yang akan kita gunakan. “Kita harus tahu guna dan fungsi manual dari kamera yang kita gunakan. Jika menggunakan kamera handphone, gunakan mode close up. Jika menggunakan kamera poket, kami menyarankan agar dapat mengaktifkan mode macro dalam mengambil gambar,” ulas dia.

Dia lalu mengatakan, jika ingin membuat hasil karya food photography dengan menggunakan kamera DSLR, gunakan ISO serendah mungkin, dan gunakan target speed minimal 1/60s. “Selain itu, gunakan Aperture f/2.0 hingga f/5.6,” cetusnya.

Dalam kesempatan itu, ia mengulas sedikit tentang sejarah potography, yakni photos dan grapos, dari bahasa Yunani yang berarti melukis dengan cahaya.

“Untuk menghasilkan karya foto yang menarik, pencahayaan paling penting dalam seni food photography. Ada trik dalam pencahayaan dalam pengambilan photo,” papar  Tjie Hwa dia.
Kata dia, arah cahaya dibagi berdasarkan arah jarum jam. Ada istilah jam 12, jam 3, jam 9 dan jam 11. “Dalam food photography kita tidak dianjurkan mengambil gambar langsung kepada objek yang akan kita foto,” paparnya.

Pemilihan angle foto juga mempengaruhi hasil foto. Jika ada tiga pemilihan angle, eye level atau angle foto yang sering dilihat oleh mata kita. Posisi angle foto ini kurang lebih 45 derajat dari objek yang akan kita foto.

“Angle foto berikutnya adalah billow eye level, angle foto tipe ini tepat di bawah pandangan mata atau angle yang tidak dapat dijangkau oleh mata saat melihat sebuah objek makanan.

“Yang terakhir adalah top view atau gaya yang dipakai para blogger kuliner untuk mengambil foto produk dari angle dari atas objek,” jelas dia. (wh)

Tjie Hwa berpesan kepada puluhan peserta yang hadir, jika untuk menjadi seorang food photography yang andal dibutuhkan latihan rutin dan tekad yang kuat.

“Dunia photography bukan hanya didasari oleh bakat, tapi juga dibentuk melalui kebiasaan,” terangnya.

Dengan pelatihan semacam ini, Tjie Hwa berharap agar para pelaku usaha kecil menengah (UKM) dapat meningkatkan usahanya, terutama dalam pemasaran.

“Untuk memasarkan produk yang kita ciptakan, kita harus dapat mengemas produk kita itu agar terlihat menarik,” pungkas Tjie Hwa. (wh)