Tim Samba jadi Pecundang, Menpora Brasil Serukan Evaluasi Total

 

Tim Samba jadi Pecundang, Menpora Brasil Serukan Evaluasi Total

Menteri Olahraga Brasil Aldo Rebelo menyerukan dilakukannya evaluasi total  pada sepakbola Brasil.  Seruan ini dikeluarkan seiring dengan kekalahn menyakitkan 1-7 atas Jerman di partai semifinal Piala Dunia 2014.   Menurutnya, kekalahan dengan skor telak itu akan meninggalkan luka mendalam bagi sepakbola negeri itu. Tapi ia mengatakan itu tak bisa dibandingkan dengan Maracanazo 1950.

Rebelo menekankan perlunya diadakan pemeriksaan seksama terhadap fasilitas dan metode pelatihan untuk meningkatkan perkembangan pemain muda.

Meski kekalahan telak ini akan diingat dalam waktu lama, dia mengatakan hal ini harusnya jadi katalis untuk evaluasi menyeluruh pada sepakbola domestik agar lebih sedikit pemain yang menyeberang ke Eropa dalam usia sangat muda. Dia mengatakan bahkan di timnas U-15 sudah banyak pemain yang bermain di klub luar negeri. “Ini akan jadi luka yang sangat dalam untuk sepakbola kita. Tapi sikap terbaik yang perlu diambil adalah menganalisis penyebab mendasar dan penyebab jangka panjang malapetaka ini,” kata Rebelo.

“Belajar dari kesalahan, memperbaikinya, dan melupakan kegagalan ini agar nanti tak terjadi lagi. Sehingga Brasil punya timnas dengan status yang semestinya di dunia sepakbola,” lanjutnya.

Liga domestik Brasil menyuplai empat juara Copa Libertadores terkini tapi dinodai oleh hooliganisme, jumlah penonton yang menurun, dan eksodus para pemain muda ke Eropa.

Musim lalu para pemain melancarkan rangkaian demo di bawah panji gerakan Bom Senso FC, menuntut reorganisasi jadwal yang tersendat dan membingungkan.  “Kami sedang mendiskusikan undang-undang khusus dengan klub agar manajemen mereka lebih modern, lebih bertanggung jawab dan berkomitmen dalam pertanggung jawaban keuangan, juga jadwal serta respek kepada pemain,” ujar Rebelo.

“Sudah ada cukup kemajuan. Usaha ini harus segera diselesaikan terlepas dari kekalahan atas Jerman,” ia meneruskan.

Rebelo menegaskan Brasil harus berhenti mengekspor para pemain berbakat di usia yang terlalu muda, dengan niat baru kembali di akhir karir mereka.

“Kita harus bekerja sepenuhnya untuk meningkatkan kualitas manajemen klub. Banyak kritik yang masuk menyebut kita punya masalah yang harus dihadapi. Kita mengekspor bahan mentah dan mengimpor bahan jadi, dalam urusan sepakbola. Kita mengekspor para pemain bintang, bukan cuma yang masih bermain tapi juga yang sedang dipersiapkan,” Rebelo menjelaskan.

Ia mengatakan UU baru dan lapangan latihan baru yang dibangun untuk Piala Dunia akan membantu Brasil mendapat lebih banyak pemain lokal berkualitas.

“Undang-undang kita mempermudah ekspor pemain ke luar negeri. Kekuatan itu dipegang para pengusaha, orang-orang Eropa. Mereka ahlinya dalam layanan sepakbola,” tuturnya.

Rebelo mengatakan penghinaan di Belo Horizonte tak bisa dibandingkan dengan Maracanazo ketika Brasil kalah 1-2 dari Uruguay di partai final. Padahal mereka cuma butuh hasil seri untuk mengangkat trofi Piala Dunia. “Skuad saat itu dipandang jauh lebih baik dari sekarang ini. Skuad 1950 adalah sekumpulan bintang. Pertahanan sangat baik, para penyerang merupakan pemain yang menakjubkan,” katanya tanpa menyebut nama para pemain.

Rebelo yang sebelumnya menyebut Maracanazo 1950 sebagai tragedi nasional mengatakan, melihat hasil seri melawan Meksiko dan kemenangan dramatis melawan Chile, ia tak heran Brasil bisa kalah dari Jerman. Tapi kalah telak 1-7 adalah sebuah luka mengerikan kata Rebelo.

“Itu sebuah insiden, jika Anda menganalisis penyebabnya itu cerita yang berbeda,” tegasnya.

Rebelo mengatakan, yang membuatnya kagum adalah sikap pendukung Brasil dan negara-negara tamu. “Saya menonton beberapa pertandingan dan merasa sangat emosional. Kejutan besar memang pertandingan Brasil vs Jerman. Kami tahu itu akan jadi laga sulit, tapi tak menduga penampilan yang seperti itu,” papar Rebelo.

“Saya lebih memilih mengingat momen menyenangkan saat menonton bersama teman-teman dan saat menonton di rumah. Kebahagiaan pendukung Brasil dan menggelar Piala Dunia di negara saya,” pungkasnya. (bst/ram)