Tim Ichiro ITS Mundur dari Kontes Robot Indonesia 2018

Tim Ichiro ITS Mundur dari Kontes Robot Indonesia 2018

Meski lolos ke babak semifinal, tim robot humanoid Ichiro kebanggaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya secara resmi mengundurkan diri dari ajang Kontes Robot Indonesia (KRI) 2018 tingkat nasional.

Alasan pengunduran diri itu adalah dikarenakan adanya ketidaksesuaian dengan aturan yang telah dibuat, serta adanya perlakuan yang kurang menyenangkan dari salah satu dewan juri saat tim Ichiro melakukan perlombaan yang bertempat di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Jumat (13/7/2018).

Ditemui di tempat lomba, dosen Pembina Tim Ichiro ITS, Muhtadin ST MT menjelaskan, alasan timnya mengundurkan diri dari divisi Kontes Robot Sepak Bola Indonesia (KRSBI) Humanoid disebabkan karena peraturan yang diterapkan berbeda dengan peraturan yang telah diunggah di laman KRI oleh Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Ristekdikti) sebagai penyelenggara. Terutama terkait dengan metode kick-off yang dilakukan oleh tim Ichiro yang sebenarnya sesuai dengan aturan yang telah dibuat, namun dinyatakan terlarang oleh salah seorang juri KRSBI Humanoid.

Di dalam peraturan yang sudah dikeluarkan kementerian tersebut, semua peraturan pertandingan sepak bola robot humanoid mengacu pada peraturan Robocup 2018 versi internasional. Ketidaksesuaian itu dapat dilihat pada peraturan saat robot akan melakukan kick off. Menurut juri yang bersangkutan, peraturan yang diperbolehkan adalah dengan meletakkan banyak robot di dalam kotak penalti tanpa menyentuh garis gawang. Namun nyatanya, dengan meletakkan robot pada posisi tersebut malah akan melanggar aturan dan membuat tim yang bersangkutan bisa “parkir bus” (istilah dalam strategi permainan) atau menumpuk pemain di arena bertahan. “Ketidaksesuaian itu bisa dibilang merugikan bagi robot otomatis seperti Ichiro,” jelasnya.

Namun pada kenyataannya yang diperbolehkan oleh peraturan internasional adalah memasukkan dua robot secara otomatis dari garis tepi lapangan di samping kiri dan kanan gawang, serta memasang robot secara manual pada garis gawang sebagai keeper dan satu penendang di tengah lapangan. “Kami bahkan menggunakan peraturan ini pada RoboCup (di Kanada, red) lalu, bagaimana bisa dikatakan keliru,” ujarnya penuh tanya.