Tim Bayucaraka ITS Siap Juarai KRTI 2019 usai Berjaya di Turki

Tim Bayucaraka ITS Siap Juarai KRTI 2019 usai Berjaya di Turki

foto: its

Sukses ukir prestasi internasional pada ajang robot terbang di Turki belum lama ini, kini Tim Bayucaraka dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) sudah siap berlaga kembali di Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI) di Pasuruan, 1-5 Oktober mendatang. Kesiapan tim Bayucaraka ini dinyatakan dengan launching lima prototype pesawat tanpa awak di Gedung Pusat Robotika ITS, Kamis (26/9/2019).

Ahmad Iqbal Pratama, Ketua Divisi Technology Development Airframe Manufacture, menyebutkan bahwa terdapat empat divisi yang akan berangkat di ajang KRTI. Yakni divisi Racing Plane (RP), Fixed Wing (FW), Technology Development (TD), dan Vertical Take Off and Landing (VTOL). Adapun divisi TD memiliki dua kategori, yakni TD Air Frame Manufacture dan TD Flight Control. “Jadi, pesawat tanpa awak yang akan dilombakan nantinya berjumlah lima,” ungkapnya.

Mahasiswa yang akrab disapa Iqbal itu mengatakan, setiap pesawat memiliki keunggulan masing-masing. Untuk Racing Plane sendiri, pesawat diharuskan untuk melaju dengan kecepatan yang tinggi, sehingga dapat mengalahkan kecepatan pesawat kompetitor. “Kita buat desainnya lebih ramping sehingga bisa mendapatkan kecepatan yang lebih tinggi,” terang Iqbal.

Ia juga mengungkapkan, pesawat tanpa awak dengan nama subtim JatayuJet 10 tersebut dapat menempuh jarak 700 meter bolak-balik dengan kecepatan 198 kilometer per jam. Selain itu, terdapat divisi Fixed Wing yang memiliki keunggulan dapat menerbangkan pesawat selama tiga jam. “Kalau di lombanya sendiri hanya membutuhkan waktu 30 menit,” ujarnya.

Divisi dengan nama subtim NAYAV3 ini, lanjut Iqbal, diharuskan untuk membuat peta dan monitoring melalui penerbangan pesawat. Sehingga, pesawat divisi ini harus bisa mengambil gambar dengan resolusi yang tinggi dan waktu yang cepat.

Sementara Tim Bayusuta yang merupakan nama tim divisi TD, mengaku hanya mengikuti dua dari tiga kategori. “Kita tidak ikut Propulsion System, karena hanya riset di Airframe Manufacture dan Flight Controller. Jadi belum ada dasar,” tutur Iqbal memberi alasan.

Pada TD Airframe Manufacture, beber Iqbal lagi, pesawat telah dikembangkan untuk dapat melakukan take-off dan landing secara vertikal tanpa memerlukan landasan pacu. Sedangkan untuk TD Flight Controller, pesawat dikembangkan pada bagian augmented reality yang nantinya akan menjadi ciri khas dari ITS.

Lebih lanjut, divisi VTOL dengan nama tim Soeromiber diharuskan merancang drone untuk mengambil barang dan meletakkan di sejumlah area tertentu dengan tepat. “Saat ini, pesawat kami dapat membawa beban maksimal sepuluh kilogram,” klaim mahasiswa Teknik Komputer ITS itu.

Kelima pesawat tanpa awak dengan masing-masing inovasi yang diusung itu diakui telah memiliki kesiapan penuh untuk berlaga di KRTI 2019 mendatang. Harapannya, tim Bayucaraka ITS dapat kembali meraih Juara Umum pada KRTI 2019 ini dan mampu mendukung perkembangan teknologi dirgantara Indonesia. (wh)