Tiga Kali Telan Pil Pahit, Ibu Ini Sukses Pasarkan Rujak Cingur Rumput Laut

Tiga Kali Telan Pil Pahit, Ibu Ini Sukses Pasarkan Rujak Rumput Laut
Choiriyah sukses membangun rujak cingur rumput laut setelah mengalami kepahitan hidup. Foto:sandhi nurhartanto/enciety.co

Berkali-kali dibohongi orang hingga membuat usahanya bangkrut tidak membuat Choiriyah putus asa. Perempuan 61 tahun tersebut tetap percaya bahwa kegagalan suatu usaha tak akan berlangsung secara terus menerus.

“Tiga kali usaha yang kami bangun dari awal bersama suami akhirnya tidak bisa berlanjut karena dibohongi orang. Tapi saya tidak menyerah,” tegas ibu berputri dua ini kepada enciety.co yang menemuinya di rumahnya di Jalan Wonosari I, Surabaya, Minggu (20/12/2015).

Ia mengisahkan, sejak menikah bersama suaminya, Abdul Muis, mereka bertekad memulai usaha dari bawah. Meski saat itu Choiriyah bisa saja meminta bantuan keluarga besarnya yang menjadi pedagang makanan sukses di kawasan Ampel.

“Kami ingin menuai hasil dari kerja keras sendiri. Tidak njagakno  keluarga. Saya bersama suami tidak mau berpangku tangan saja,” ucap Choiriyah.

Kadang, aku dia, bila suaminya yang bekerja sebagai serabutan tidak punya rejeki untuk memberinya uang belanja, Choiriyah hanya bisa masak dengan satu ikan asin yang diberi kuah untuk dimakan berdua.

Suatu ketika, Choiriyah diberi ibunya  tempat tidur. Ini karena ia dan suaminya saban hari tidur di lantai beralaskan kora. Ibunya kasihan mereka hidup sengsara. Atas persetujuan suami, tempat tidur itu pun dijual seharga jual Rp 18 ribu.

Usai menjual tempat tidur , Choiriyah muda didatangi salah seorang tetangganya. Intinya, tetangganya itu butuh duit buat bayar kontrakan. Karena kasihan uang Rp 18 ribu itupun berpindah tangan ke tetangganya.

Untuk mengisi kekosongan keuangan rumah tangga mereka, Choiriyah memberanikan diri untuk menerima jahitan dari warga sekitar. Tahun 1999, Choiriyah selain menerima pesanan jahitan baju juga mengkhususkan diri membuat berbagai mukena.

***

Rujak-cingur-6

Ketelatenan membawa bisnis Choiriyah lamat-lamat mulai merangkak naik. Ia membuat berbagai macam mukena. Konsep dan desainnya ia pelajari dari beberapa referensi, baik di media cetak maupun elektronik. Hingga ia bisa membuka garmen sendiri di rumah.

Waktu itu, ia sampai bisa mempekerjakan 25 orang penjahit untuk memenuhi pesanan yang ada. Sebuah usaha yang cukup menjanjikan. Dengan kelebihan uang, suaminya Abdul Muis memberanikan diri membuka jual beli besi. Berbagai daerah didatanginya seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya untuk memburu besi bekas. Tak dinyana, sewaktu ada tawaran untuk memborong besi bekas di Tanjung Priok Jakarta, Abdul Muis salah perhitungan dibelinya. Dengan modal Rp 2 miliar yang dibawanya, ia harus rela kehilangan Rp 200 juta akibat salah menaksir harga besi yang akan dibelinya.

“Dipikir oleh suami, besi yang dijual ke kami adalah bagus dan padat seperti baja. Ternyata di dalam besi itu banyak yang keropos. Sewaktu ditimbang, penimbang juga bohongi kami dengan mengurangi takaran,” ceritanya.

Kerugian yang besar tersebut membuat keluarganya kalang kabut. Dua mobil dan lima motor akhirnya harus direlakan dijual untuk menutupi kerugian tersebut.

Tidak patah arang, Choiriyah yang sudah berhenti dari usaha garmennya akhirnya memutuskan untuk membuat kue atau bakery. Berkat keuletannya, dirinya mampu memperkerjakan pegawai yang menjual rotinya dengan gerobak motor. Berbagai toko di Surabaya yang dititipin kue senang dengan bakery buatannya yang enak.

Lagi-lagi, keluarga Choiriyah dibohongi. Seorang pegawai rotinya sendiri yang dipercaya membawakan dagangannya membawa lari motor, bahan-bahan membuat roti, oven dan molen serta lainnya. Choiriyah pun bangkrut.

Ditunggu hingga berhari-hari, pegawai yang dianggap keluarganya sendiri tersebut ternyata sudah menggadaikan berbagai barang di Jakarta akibat kalah judi bola.

“Neneknya si pegawai tersebut memasrahkan pada saya apakah dilaporkan ke polisi atau tidak karena dia sudah bingung menghadapi cucunya. Saya akhirnya gak jadi lapor ke polisi dan pasrah saja,” terusnya.

Penderitaan Choiriyah tidak berhenti disitu, Abdul Muis sang suami akhirnya meninggal dua tahun lalu. Bersama sang anak, Selfie Mediana dan Agustiana, Choiriya tetap berusaha bangkit.

***

Tahun 2012, Choiriyah didatangi kelurahan Pegirian. Dia disuruh ikut lomba nasi kuning dalam roadshow Pahlawan Ekonomi (PE) di Kaza City. Pak Lurah tahu, bila Choiriyah setiap ikut lomba masak pasti menang. Ternyata perkiraan lurah mbleset. Choiriyah kalah.

“Titik baliknya disitu. Karena biasanya menang akhirnya saya tanya pada jurinya kenapa kalah. Ternyata ketahuan gak pernah ikut pelatihan karena tidak mencamtumkan bahan dan daftar harga,” terusnya.

Akhirnya, Choiriyah mengetahui bila setiap minggu ada pelatihan Pahlawan Ekonomi di Kaza City. Dengan semangat membara, Choiriyiah tekun mengikuti pelatihan. Ia beralasan, mengikuti pelatihan Pahlawan Ekonomi  banyak enaknya. Sudah gratis dapat ilmu baru pula.

“Setahun ikut pelatihan atau pada 2013 lalu, rujak cingur buatan saya diyatakan menang, juara tiga. Rujak cingur saya berbeda dengan kebanyakan karena ada rumput lautnya,” terusnya.

Ide menambahkan rumput laut dalam rujak cingur karena saat beli es campur, ada sisa satu rumput laut. Iseng-iseng, dirinya mencolekkkan rumput laut tersebut ke sisa bumbu rujak. Merasakan enak, akhirnya dia putuskan untuk membuat rujak cingur dengan rumput laut.

Berkat idenya ini, berturut-turut Choiriyah meraih sukses. Berbagai penghargaan pun diraih. Yang terakhir pada 2015, ia dapat juara Best of The Best Culinary Business Pahlawan Ekonomi Surabaya.

Kini, keinginan Choiriyah hanya satu: punya stan permanen. Ia ingin meneruskan usaha ibunya agar dapat menjual dagangan secara rutin. Di kawasan Ampel, ibunya adalah pedagang makanan sukses. Mulai gado-gado, nasi campur, lontong cap gomek, hingga nasi kotak dijualnya.

Sekarang, Choiriyah hanya busa menerima pesanan makanan saja. Dia tak bisa menjual  ke khalayak lantaran tak punya stan. Ia mengakui barusan melihat stan sebelah sate di Ondomohen untuk membuka usaha. Namun harga yang diminta terlalu tinggi. “Ukuran kecil minta Rp 35 juta. Ini masih survei lagi di tempat lainnya,” ungkap dia.

Kini, Choiriyah meraup jutaan dari berbagai pesanan yang ada ke dirinya. Dan keuntungannya pun diakuinya mencapai separo lebih. “Belum pesanan kue dan lainnya,” tutupnya. (wh)