Tiga Fakta Kepercayaan Diri Anak bakal Luruh

Tiga Fakta Kepercayaan Diri Anak bakal Luruh

 

Jangankan anak kecil, kita saja orang dewasa pasti kesal ketika dibanding-bandingkan dengan orang lain. Karena bisa menciptakan penilaian pada diri sendiri, bahwa Anda tidak cukup baik dan kurang mampu. Kesal? Pastinya!

Jangan langsung menghakimi buah hati saat tugas mewarnainya tidak mendapatkan nilai cemerlang di sekolah. Sebagai orangtua, Anda menganggap dengan membandingkan si kecil dengan temannya atau saudaranya lain, akan memompa semangatnya untuk belajar lebih baik. Tetapi bila keseringan, anak malah akan merasa minder dan menganggap dirinya sebagai biang kegagalan.

Simak tiga fakta berikut seperti dilansir Womans Day :  

1. Jangan hakimi anak

Ketika si kecil memasuki usia sekolah, dalam dirinya terjadi pergulatan karena harus melakukan penyesuaian. Jika biasanya ia menjadi pusat perhatian orangtua di rumah, maka di sekolah ia harus belajar bersosialisasi dengan teman sebaya lainnya. Maka dari itu, ketika nilai tengah semester anak tidak terlalu cemerlang, hindari mengucapkan, “Kamu harusnya bisa berusaha lebih keras” dan “Kamu harus belajar berkonsentrasi lebih baik”.

Menurut Amy McCready, pendiri Positive Parenting Solution dan penulis buku laris berjudul If I Have to Tell You One More Time, ucapan orangtua sebagairasa kecewa akan menurunkan motivasi anak. Orangtua seharusnya jangan hanya bisa menyimpulkan dan menilai, tetapi juga harus menjaga komunikasi dengan anak.

Tanyakan pada mereka, apa gangguan konsentrasinya, apakah di sekolah dia diperlakukan dengan baik, atau apakah proses bersosialisasi dengan teman terdapat kendala? Setelah mendengar penjelasan anak, terangkan apa harapan dan keinginan Anda padanya.

2. Terus mengingatkan kesalahan anak

Coba ingat-ingat kembali, sudah berapa kali Anda mengatakan, “kamu susah dibilangin” atau “kamu selalu melawan mama”, kepada anak? Dua kalimat tersebut, disadari atau tidak, merupakan label negatif pada sang buah hati. Akhirnya, seiring usia, dirinya terlanjur percaya bahwa dirinya adalah seorang pembangkang. Jika ini sampai terjadi, Anda telah gagal sebagai orangtua!

3. Jangan didik sebagai pengikut

Terjadinya persaingan di antara anak dalam keluarga besar, memang tak terlakkan. Kebiasaan orangtua membandingkan anak satu dengan lainnya, sudah menjadi “pemandangan” lazim di lingkungan sosial.  Jangan terjebak pada kebiasaan orangtua di masa lalu, sebagai orangtua muda dan modern, seharusnya Anda tidak menimbulkan rasa iri antar anak-anak sendiri.

Mungkin tujuan Anda agar anak lebih bersemangat, tetapi anggapan ini salah besar. Jika ingin membuat anak termotivasi, maka ucapkanlah kata-kata dukungan yang positif, dan ketahuilah bahwa setiap orang terlahir dengan bakat serta jalan hidup tak sama. (bh)