Tidak Hanya Tol Laut, Surabaya Butuh Gudang Raksasa

Tidak Hanya Tol Laut, Surabaya Butuh Gudang Raksasa

 

Rencana pemerintah pusat untuk membangun tol laut dan membuka perdagangan laut seluas-luasnya tidak akan berdampak pada peningkatan arus petikemas yang terjadi di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.

Ini ditegaskan Chairman Indonesian National Shipowners’ Association (INSA) Surabaya Stenvens H. Lesawengen saat ditemui enciety.co di kantornya, Senin (22/12/2014).

Menurut dia, saat ini arus peti kemas di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya mencapai 2 juta Teus per tahun. Jumlah tersebut terdiri dari transaksi di arus peti kemas lokal sebanyak 1 juta Teus dan arus ekspor-impor sebanyak 1 juta Teus.

“Dari data kami, jumlah ini meningkat 10 persen dibanding tahun lalu. Tapi peningkatan ini terjadi tidak karena kebijakan pemerintah pusat membuka tol laut. Karena tol laut tidak akan berdampak pada peningkatan arus peti kemas,” katanya.

Stenvens menuturkan, kebijakan tol laut yang digadang-gadang pemerintah pusat sudah ada sejak zaman Majapahit. Namun ini tidak berarti apa-apa jika infrastruktur di luar pulau Jawa masih tidak dibenahi.

“Harus dibangun dulu pabrik-pabrik di Papua, dan infrastruktur jalan yang memadai, baru tol laut itu bisa berfungsi,” jelasnya.

Sementara itu, di Surabaya sendiri menurut Stenvens arus petikemas terkendala denga jauhnya tempat pergudangan dengan Pelabuhan Tanjung Perak. Menurutnya, harusnya Surabaya sudah memiliki pergudangan raksasa. Di mana semua barang peti kemas dapat ditempatkan di satu tempat.

“Sekarang yang terjadi kan berbeda, jarak antara pergudangan dengan pelabuhan sangat jauh. Bayangkan gudangnya saja di kawasan Margomulyo, bahkan ada yang di Mojokerto, Sidoarjo, sampai Gresik. Otomatis biaya barang akan dibebankan ke beban pengiriman logistik,” ungkapnya.

Selain diperlukannya pergudangan raksasa di kawasan Pelabuhan Tanjung Perak, pembangunan tol Surabaya-Mojokerto hingga pembangunan jalan lingkar timur harus selesai beberapa tahun yang lalu.

“Tentu saja infrastruktur darat kita tidak memadahi. Meskipun tol laut sudah berfungsi tapi di darat infrastruktur nggak terstruktur akhirnya barang akan jadi mahal dan tidak merata,” pungkasnya. (wh)