Tertawa pun Bisa Berujung Maut

Tertawa pun Bisa Berujung MautKita pasti sering mendengar nasihat “Tertawa itu Menyehatkan”. Tertawa dipercaya bisa membantu melemaskan otot-otot yang tegang. Dengan begitu, bisa membuat kita rileks dan terhindarkan dari stres. Namun, NYTimes melansir penelitian dari sebuah jurnal medis Inggris. Jurnal tersebut memaparkan banyak efek membahayakan yang ditimbulkan oleh tertawa.

Tertawa kencang dapat menimbulkan pergeseran tulang rahang, memicu serangan asma, menimbulkan sakit kepala, membuat hernia membesar. Tertawa juga menimbulkan gangguan irama jantung, sinkope (kehilangan kesadaran dan jatuh secara tiba-tiba), bahkan emfisema (gangguan pengembangan paru-paru). Tertawa bisa memicu sindrom langka, Pilgaard-Dahl and Boerhaave. Pun dampak yang mungkin memalukan; gangguan saluran kemih.

Analisis yang berjudul “Laughter and MIRTH (Methodical Investigation of Risibility, Therapeutic, and Harmful),” diambil dari sekitar 5.000 studi. Analisis ini muncul di British Medical Journal (BMJ). Seorang wakil editor, Dr Tony Delamothe, mengatakan bahwa studi MIRTH merupakan peer-review (penelitian sejawat) yang dilakukan oleh Dr. Robin E. Ferner dan Jeffrey K. Aronson. Ferner adalah seorang professor honorer Farmakologi Klinis di University of Birmingham, sedangkan Aronson ialah rekannya di Farmakologi Klinis di Oxford.

Dari 120 kiriman penelitian, BMJ hanya menerima 30 saja. Di antara penelitian yang masuk tersebut, Dr. Fermer dan Dr. Aronson membuat urutan penelitian-penelitian yang menyebutkan kata ‘tawa’, lalu menaruhnya ke dalam 3 kategori, 85 di antaranya berbicara soal manfaat, 114 soal bahaya, dan 586 soal kondisi-kondisi apa saja yang menyebabkan tawa patologis. Banyaknya penelitian menyangkut tawa ini cukup membuat kedua professor ini terkejut. Sebab, selama 30 tahun BMJ hampir tak pernah menangani secara serius mengenai tawa.

Tawa sebagai terapi kurang menarik minat para peneliti. Tahun 1928, The Journal of American Medical Association memberikan sedikit perhatian terhadap buku bikinan Dr. James J. Walsh, Laughter and Health.

Bahaya tawa pun, telah diteliti. Pada tahun 1997, sebuah diskusi mengenai sindrom Boerhaave mencuat. Boerhaave adalah terbentuknya lubang pada kerongkongan secara spontan. Sindrom ini tergolong langka, namun berpotensi kematian. Tawa disebut sebagai salah satu penyebab Boerhaave.

Berikutnya adalah sindrom misterius bernama Pilgaard-Dahl. Sindrom ini teridientifikasi pada sebuah artikel tahun 2010 dengan judul “Pneumotoraks pada perokok laki-laki paruh baya yang disebabkan oleh tawa”. Nama sindrom diambil dari dua orang nama penemunya, Ulf Pilgaard dan Lisbet Dahl.

Dr Ferner kemudian menyebutkan, ada lagi gangguan pernafasan yang diakibatkan oleh tawa. Yakni, munculnya alveoli alias kantung udara di paru-paru, yang biasanya berjumlah sekitar 600 juta. Belum lagi, bahaya tersedak makanan saat tertawa menggunakan perut.

Review MIRTH itu terbilang penelitian yang paling mendekati fakta lapangan dan mencatat banyak bukti terhadap efek yang bermanfaat tersebut. Penelitian ini pun menyimpulkan bahwa manfaat tawa antara lain mengurangi kemarahan, kecemasan dan stres, mengurangi ketegangan kardiovaskular, konsentrasi glukosa darah, dan risiko infark miokard. “Manfaat dan bahayanya seimbang,” tulisnya.

Studi dalam beberapa tahun terakhir menyimpulkan, tertawa mengurangi kekakuan dinding arteri dan meningkatkan fungsi endotel. Dan sebuah studi pada tahun 2008 terhadap pasien dengan penyakit paru obstruktif kronik menyimpulkan, bahwa tertawa karena terinspirasi oleh badut Pello, dapat meningkatkan fungsi paru-paru.

Secara medis, melucu memang telah diamati. Tapi satu studi terakhir yang dipelajari Dr Ferner hampir membuatnya speechless. Sebuah studi kesuburan pada tahun 2011 melaporkan temuan yang mencengangkan.

Seorang badut yang berpakaian ala chef de cuisine diminta menghibur beberapa calon ibu selama 12 sampai 15 menit setelah fertilisasi in vitro dan transfer embrio. Hasilnya, tingkat kehamilan mereka adalah 36 persen. Ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan calon ibu yang tidak dihibur, yaitu 20 persen.

Dr. Ferner dan kawan-kawan akhirnya menyimpulkan, masih ada wilayah-wilayah yang perlu dipetakan oleh literatur medis pada tawa. “Kami tidak tahu seberapa banyak tawa itu bisa dibilang aman,” katanya. “Mungkin seperti kurva berbentuk U; tertawa itu baik untuk Anda, tapi sebagian besarnya mungkin buruk,” tutupnya.(wh)