Teror Kepada Warga Sekitar Dolly-Jarak Meningkat

 

Teror Kepada Warga Sekitar Dolly-Jarak Meningkat

Jelang penutupan lokalisasi Dolly-Jarak, teror kepada warga yang tinggal di sekitar area prostitusi tersebut, meningkat. Hal itu dikisahkan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini saat ditemui usai Rapat Paripurna PAW Wakil Ketua DPRD Surabaya, Senin (5/5/2014). Ia mengatakan, ancaman dan teror terus menghantui mereka.

“Itu orang-orang yang setuju (penutupan, Red) sekarang pada diteror. Bahkan ada yang mau dibunuh. Padahal pemodal besarnya sudah mau,” ungkapnya kepada wartawan di Gedung DPRD Surabaya.

Karena itulah Risma menutup mulutnya rapat-rapat ketika ditanyai apa rencana pemerintah kota Surabaya ke depan. Ia mengakui pihaknya sengaja merahasiakan strategi penutupan Dolly-Jarak demi keselamatan dan keamanan warga yang mendukung rencana tersebut. Ia tak mau banyak membicarakan ihwal penutupan supaya mereka tak mendapat ancaman. “Tolong bantu memahami. Kasihan mereka yang mau,” tegasnya.

Perempuan 52 tahun itu menyatakan telah berkomunikasi dengan tokoh-tokoh masyarakat dan pemilik wisma di kawasan Dolly dan Jarak. Pihaknya juga intens berkordinasi dengan TNI dan Polri. “Nanti kalau waktunya mepet saya kasih tahu. Karena ini bagian strategi kami, kesepakatan kita dengan TNI, Polri, dan Dinas Sosial,” jelasnya.

Risma tak gentar meski kelak ia mendapatkan perlawanan. Sebab, pro dan kontra baginya sudah menjadi risiko perjuangan. “Ndak apa-apa ada perlawanan beberapa orang. Biasa lah, dulu aku juga dilawan waktu penutupan lokalisasi di Sememi,” tuturnya.

Wali kota perempuan pertama di Surabaya itu menjamin, pemkot tak akan menggunakan cara-cara radikal. Pemkot bahkan tengah mempersiapkan anggaran untuk membeli rumah-rumah bekas wisma guna dijadikan sentra PKL. “Ada yang mau memberikan bekas wisma dan dijual ke kami. Kami akan beli dan dijadikan sentra PKL, taman, PAUD, pasar, atau rumah industri kayak yang di Tambak Asri,” urainya. Risma juga menyebut akan mendirikan sekolah, sebab sejak dulu tak ada sekolah di sana.

Alumnus Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) itu mempersilakan kepada warga setempat jika ingin memperoleh pelatihan seperti yang diberikan kepada Pekerja Seks Komersial (PSK). “Monggo kalau ada warga yang mau belajar, silakan masuk ke Bapemas kalau dia minta,” ujarnya.

Ia mencontohkan, peserta pelatihan di eks lokalisasi Dupak Bangunsari justru didominasi oleh warga, bukan PSK. “PSK-nya itu lo, nggak ada 40 orang. Sekarang pesertanya 80-90 orang, sisanya dari warga,” pungkasnya.(wh)