Ternyata, Pep Guardiola Benci Tiki Taka

 

Ternyata, Pep Guardiola Benci Tiki Taka

Selama ini, publik mengetahui Pep Guardiola sangat melekat dengan gaya bermain tiki-taka saat masih melatih Barcelona. Namun, baru-baru ini terungkap fakta bahwa Guardiola sebenarnya tidak menyukai gaya bermain yang dianggapnya membosankan itu.

Sejak melatih Barca di awal musim 2008-09, Guardiola sukses menyempurnakan pola permainan tiki-taka yang dipertama kali diperkenalkan oleh pelatih sebelumnya, Johan Cruyff.

Di bawah asuhan Pep, Barca semakin lekat dengan gaya bermain operan pendek, cepat dan merapat. Tiki-taka pula yang mengantarkan Los Blaugrana meraih banyak titel bergengsi di ranah domestik maupun internasional. Dalam buku yang ditulis seorang jurnalis, Marti Perarnau, pelatih 43 tahun itu mengakui bahwa ia sama sekali tidak menyukai dirinya terus dikaitkan dengan gaya bermain tiki-taka.

“Saya tidak menyukai semuanya tentang tiki-taka. Semuanya tidak ada artinya dan tidak punya tujuan. Anda harus mengoper bola dengan maksud jelas serta bertujuan mencetak gol ke gawang lawan. Bukan sekadar mengoper bola,” demikian Pep yang kini melatih Bayern Munchen.

Pep menjelaskan inti dari permainan tiki-taka adalah memecah konsentrasi lawan sehingga Barca bisa melancarkan serangan mematikan melalui aliran bola cepat.

Menurutnya, pola permainan seperti ini hanya membuat jalannya laga menjadi bosan karena yang disuguhkan adalah melihat operan dari kaki ke kaki tanpa adanya variasi serangan.

“Anda harus punya DNA permainan sendiri. Saya benci tiki-taka. Tiki-taka berarti mengoper bola tanpa tujuan jelas, dan itu sia-sia. Dan ketika kami melakukannya, kami menyerang dan mencetak gol dari sisi lainnya. Itulah mengapa Anda harus mengoper bola tapi dengan tujuan yang jelas,” lanjut Pep.

“Semuanya bertujuan untuk menekan lawan, memancing mereka keluar dan kemudian melancarkan serangan ke pertahanan mereka. Dan itulah yang kami lakukan dengan tiki-taka,” ia memungkasi.

Sejak dipercaya melatih Bayern Munchen di awal musim 2013-14, Pep mulai melepaskan identitasnya dari tiki-taka dan memilih mengeksplorasi gaya bermain baru bersama Die Roten. Di musim perdananya bersama Munchen, ia pun sukses memberikan gelar juara Bundesliga serta Piala Jerman. Sayang, ia gagal mempertahankan gelar juara Liga Champions Eropa. (inl/ram)