Terminal Teluk Lamong Raih Best IT System 2015

Terminal Teluk Lamong Raih Best IT System 2015
Direktur Keuangan dan Umum TTL Haryana Menerima Penghargaan, foto: humas pelindo III

Penerapan sistem teknologi informasi (TI) yang dilakukan oleh PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) atau Pelindo III pada Terminal Teluk Lamong (TTL) meraih Juara II Best IT System, pada kompetisi Indonesia Best e-Corp 2015 yang hasilnya diumumkan di Jakarta, Kamis (26/11/2015).

TTL yang berlokasi di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Jawa Timur, merupakan terminal peti kemas dan curah kering pertama di Indonesia yang beroperasi secara semi-otomatis.

“Kompetisi Best IT System boleh dibilang program inti ajang Best e-Corp, karena merupakan cikal bakalnya,” kata Joko Sugiarsono, Redaktur Eksekutif SWA yang juga menjadi salah satu juri. Anggota dewan juri lainnya ialah Richard Kartawijaya (CEO PT Graha Teknologi Nusantara), Prof. Riri Fitri Sari (Universitas Indonesia), dan All Mulk (PwC Consulting Indonesia).

Seperti yang dilansir di Majalah SWA edisi 23 tahun 2015, penilaian dewan juri untuk kompetisi sistem TI korporat tersebut didasarkan pada empat dimensi. Pertama, keunikan dan inovasi dalam mendukung proses bisnis perusahaan. Kedua, proses implementasi berupa sebaik apa sistem berjalan. Ketiga, dari sisi efektivitas biaya. Dan, keempat, yang menjadi bobot penilaian terbesar yaitu impak bisnis atau hasil pemanfaat sistem terhadap bisnis yang dijalankan, bisa berupa efisiensi, profitabilitas, pengembangan bisnis baru.

Berdasarkan penilaian, sistem TI pada Terminal Teluk Lamong, yakni automated Terminal Operating System (TOS) dapat bekerja dengan mendigitalisasi data secara real-time dan memberikan instruksi kepada sumber daya sesuai perencanaan dan alokasi yang ada. “Penerapan sistem TI tersebut memberikan efisiensi biaya hingga lebih dari Rp 2 miliar per tahun. Sementara hasilnya yakni tercapai kemudahan dalam pengurusan dokumen secara online, tidak harus dilakukan di terminal,”  kata Direktur Utama Terminal Teluk Lamong, Prasetyadi, di sela acara.

Prasetyadi juga menjelaskan manfaat lainnya, yakni petugas bea dan cukai dalam melakukan inspeksi dapat melaksanakan dari kantor mereka, tanpa harus berada di gate. Selain itu keunikan atau keunggulan lain dari TTL dari sisi teknologi ialah pada lapangan penumpukkan peti kemas, crane yang disebutnya sebagai Automated Stacking Crane (ASC) dikendalikan jarak jauh dari menara control. “Tanpa operator manusia, kinerja produktivitas dapat terukur dan meminimalisir faktor human error. Biaya operasional juga lebih efisien,” paparnya.

Pada lain kesempatan, Manajer TI Terminal Teluk Lamong, Firmaniansyah, mengatakan bahwa investasi sebesar Rp 80 miliar ditanamkan oleh Pelindo III untuk mengembangkan sistem automated Terminal Operating System (TOS) di TTL. Sistem TI tersebut menawarkan terobosan berupa otomatisasi pada  alat berat, seperti crane, gate, dan truk.

Firmaniansyah menambahkan, tantangan dalam penerapan sistem tersebut ialah bagaimana menggabungkan dan mengintegrasikan beberapa sistem, mulai dari mitra bisnis dan sejumlah vendor. Misalnya mengintegrasikan operasional alat berat dengan software untuk menjalankan kegiatan terminal. Tantangan berikutnya ialah mengintegrasikan data TTL dengan institusi luar, seperti agen pelayaran, perusahaan forwarder, hinga pihak Bea Cukai. “Namun yang paling menantang yaitu perihal change management. Contohnya bagaimana membiasakan petugas perusahaan pelayaran yang terbiasa mengurus secara fisik, diajak untuk berubah mengurus secara online,” ceritanya.

Salah satu dewan juri, Richard Kartawijaya, pun memujinya. “Mereka bisa mengendalikan dengan disiplin TI yang baik,” ujarnya. Sedangkan juri lainnya, All Mulk, menekankan bahwa yang perlu digarisbawahi dari seluruh peserta kompetisi tersebut adalah semangat agar TI menjadi bagian dari solusi bisnis. (wh)