Terimbas Banjir, Omzet Mal Turun 30 Persen

Terimbas Banjir, Omzet Mal Turun 30 Persen

Omzet mal di wilayah Jakarta dan sekitarnya mengalami penurunan mencapai 30 persen akibat banjir yang menggenangi Ibu Kota sejak minggu lalu dan menyebabkan akses ke pusat perbelanjaan terganggu atau bahkan terputus.

“Selama satu minggu omzet penjualan pusat perbelanjaan menurun 20 sampai 30 persen,” kata Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Bayu Krisnamurthi.

Bayu menjelaskan, sebanyak kurang lebih 24 pusat perbelanjaan yang tersebar di berbagai wilayah Jakarta yakni, sebanyak empat pusat perbelanjaan di wilayah Jakarta Timur, Dua di Jakarta Pusat, lima di Jakarta Utara, empat di Jakarta Barat, satu di Bekasi, tiga di Tangerang mengalami penurunan omzet penjualan.

“Dampaknya lebih berupa gangguan distribusi seperti sulitnya arus keluar masuk barang dan akses pelanggan, namun tidak ada pusat perbelanjaan terkena banjir,” ujar Bayu.

Akibat banjir melanda Jakarta tersebut, berdasarkan informasi dari BNPB (19/1), sebanyak 30.784 jiwa harus mengungsi di 140 titik pengungsian, dan sebanyak 48.263 jiwa atau 10.520 KK terdampak langsung dari banjir.

Daerah yang terendam banjir meliputi 564 RT, 349 RW, 74 kelurahan di 30 kecamatan, dan mengakibatkan tujuh orang meninggal dunia.

Bencana ekologis
Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup Balthasar Kambuaya mengatakan, banjir yang terjadi hampir di sebagian besar wilayah Indonesia merupakan bencana ekologis.

“Banjir yang kita hadapi sekarang akibat kerusakan ekologis. Ekologi kita hancur total,” katanya saat meninjau lokasi pembongkaran vila di Puncak, Bogor, Senin.

Secara umum laju kerusakan ekologis atau degradasi lingkungan di Indonesia dari tahun ke tahun sangat memprihatinkan terlihat dari penurunan luas tutupan hutan di Indonesia dari 49,37 persen pada 2008 menjadi 47,73 persen pada 2012 atau mengalami degradasi sebesar 1,64 persen dalam waktu empat tahun.

Di Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung terjadi penurunan luas tutupan hutan dari 9,4 persen pada 2000 menjadi 2,3 persen pada 2010 atau mengalami laju degradasi sebesar 7,14 persen dalam kurun waktu 10 tahun atau 0,7 persen per tahun. (ant/bh)