Terbuka, Peluang Usaha Di Dunia Peternakan

Terbuka, Peluang Usaha Di Dunia Peternakan

Iswahyudi, Wemmi Niamawati, dan Kresnayana Yahya. foto: arya wiraraja/enciety.co

Jumlah kelas menengah makin meningkat karena perekonomian makin stabil. Namun sampai saat ini, jumlah konsumsi protein daging sapi di Indonesia masih terbilang sangat kecil. Angkanya masih di bawah 3 kilogram per orang per tahun. Jika dibandingkan Filipina, angkanya mencapai rata-rata 7 kilogram per orang per tahun. Sedangkan Argentina angkanya mencapai rata-rata 55 kilogram per orang per tahun.

“Produktivitas dan efektivitas kerja manusia makin meningkat jika asupan protein yang diterima bertambah. Untuk itu, supaya produktif, sudah waktunya masyarakat disadarkan asupan dalam tubuh juga penting,” terang Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (22/3/2019).

Acara tersebut juga dihadiri Kepala UPT Inseminasi Buatan Dinas Peternakan Jatim Iswahyudi, dan Kepala Dinas Peternakan Jatim Wemmi Niamawati.

Di Jatim, terang Kresnayana, bisa dibilang mengalami surplus pasokan protein hewani. Karena selain kondisi wilayah memadai, Jatim juga punya kultur di mana kebanyakan masyarakatnya berinvestasi sapi. Rata-rata ada 4 juta sapi dipotong tiap tahunnya dengan rata-rata pasokan sebesar 14 juta sapi.

Namun, bagi Kresnayana hal ini bukan surplus. Sebab, jika dibandingkan jumlah dan pola konsumsi masyarakat, angka tersebut dirasa masih sangat kurang.

“Masyarakat kita ini unik. Coba perhatikan, pas waktu kita kecil dulu nenek- kakek kita pasti punya sapi. Lalu, jika sapi kita banyak orang pasti bilang kalau kita orang mampu. Nah, lewat contoh itu menandakan sapi ini salah satu aset investasi,” ujar dia.

Kresnayana mengingatkan, jika peluang masyarakat untuk menjadi pelaku usaha yang konsen dalam dunia peternakan ini terbuka. “Ini jadi peluang usaha ke depan. Peningkatan protein hewani ini bisa dengan cara menyediakan bibit, menyediakan pakan, menyediakan obat-obatan dan lain sebagainya. Nah, jika mode bisnisnya sudah dikenali, masyarakat ini bisa berani lebih masuk dalam dunia bisnis peternakan,” tegas Bapak Statistika Indonesia itu.

Semmentara Kepala Dinas Peternakan Jatim Wemmi Niamawati menegaskan, sesuai UU Nomor 41 Tahun 2014, peternakan dan kesehatan hewan adalah karunia Tuhan Yang Maha Kuasa, hingga karunia tersebut harus didayagunakan dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Wemmi menegaskan, populasi sapi potong 4,6 juta ekor dengan nilai sumbangsih terhadap pasokan nasional mencapai 28 persen. Untuk produksi daging dari 18 komoditas unggul seperti ayam guras, ayam ras, domba dan lain, mencapai 542 ribu ton.

“Lantas untuk komoditas daging sapi potong angkanya bisa mencapai 98 ribu. Catatan kami, hari ini Jatim surplus 3 ribu ton daging sapi potong,” ungkap Wemmi.

Untuk target, imbuh dia, ia menyebut jika tahun ini pihaknya menargetkan angka 25 persen pasokan daging sapi dengan realisasi 100 persen. Untuk kekuatan produksi, pihaknya menarget sekitar 1,5 persen. Namun angka realisasi yang diterima mencapai 13,5 persen persen daging.

“Capaian-capaian ini menunjukkan jika sampai saat ini Provinsi Jatim masih menjadi daerah yang sangat penting bagi ketersediaan pasokan protein hewani secara nasional,” pungkasnya. (wh)