Terbebas Residu, Manggis Kembali Bisa Masuk China

Terbebas Residu, Manggis Kembali Bisa Masuk China

Buah manggis asal Indonesia kembali bisa masuk pasar China setelah sempat terhambat karena dinilai mengandung residu pestisida.

Ketua Gabungan Kelompok Tani Pasujen Kalipuro Banyuwangi, Abdul Rohim menuturkan, pengiriman manggis ke China sudah mulai stabil. Setidaknya setiap bulan 1 ton sampai 1,8 ton bisa dikirim ke negara tersebut.

“Tahun 2013 lalu petani sempat dipersulit, produk kami ditolak karena ada residu. Sekarang sudah bisa kirim lagi,” jelas Abdul Rohim.

Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian mencatat pada Maret 2013 ekspor manggis ke China hanya 1 ton, padahal Januari mencapai 43 ton. Tahun 2012 bulan Januari sukses ekspor  2,391 ton, dan di bulan Maret jumlah ekspor manggis capai 2,618 ton.

Sementara itu untuk Jawa Timur, Kecamatan Kalipuro, Songon dan Glagah di Banyuwangi merupakan sentra penghasil manggis. Produksi manggis di wilayah tersebut bisa 17.289 ton per tahun dengan masa panen Januari-Juni.

Abdul Rohim menguraikan penolakan China atas produk manggis asal Indonesia, akibat ditemukannya residu pestisida. Padahal, tanaman manggis tidak mengenal obat-obat kimia sejak di lahan tanam.

Ternyata, katanya, ada eksportir menyemprot pestisida untuk mengusir semut. Semut memang bisa jadi problem ekspor saat di karantina. Bekas pestisida itulah dinilai sebagai residu.

Petani sudah membiasakan diri menghindari penggunaan pestisida saat menghilangkan semut. Hewan serangga semacam semut dapat dihalau melalui perwatan sejak dini. (bis/bh)